Mau tanya nih. 2 hari yang lalu istri saya melahirkan. syukurlah bayi kami sehat. Tapi ada satu masalah. Bayi kami bibirnya agak sumbing. Kira-kira bagaimana caranya supaya sumbingnya hilang? Katanya operasi bisa menghilangkan sumbing ini.
Mohon penjelasannya

(Ruddy)

Jawab:
Sebelumnya saya ucapkan selamat pada anda dan istri anda. Terlebih lagi jika istri anda juga sehat. 🙂

Dalam medis, bibir sumbing/celah bibir disebut “Cleft Lip” dan ini termasuk salah satu kelainan bawaan.

Nah, pengobatan yang paling sering diberikan untuk kelainan ini adalah operasi plastik. Beberapa referensi menyebutkan operasi plastik cara-Z. Dan operasi ini baru boleh dilakukan setelah bayi anda sudah berumur dua bulan lebih. Pastikan bahwa bayi anda sudah mengalami kenaikan berat badan dan bebas dari infeksi sebelum menerima terapi ini. Beberapa orang baru dioperasi ketika sudah dewasa. Artinya, bukan menjadi satu patokan bahwa operasi ini dilakukan saat masih bayi.

Terkadang operasi perbaikan atau revisi juga dilakukan saat bayi telah dewasa dengan alasan kosmetis.

Terima kasih,
Semoga bermanfaat

dr. Samuel Sembiring
dokter@samuelkarta.com

akhir2 ni saya sering gatal2 pada kaki n tangan. dan jika sudah sering saya garuk akan seperti sisik hitam kecil2…
saya mau tnya ini penyakit apa, tindakan apa yang saya lakukan? apa ini seperti allergi??

(Icyan)

Jawab:
Sebenarnya, hanya dari gejala klinis yang anda berikan, sangat sulit dipastikan apa penyebab dari gatal-gatal yang anda derita. Butuh pemeriksaan dan tanya jawab lain untuk menegakkan diagnosisnya.

Tentunya sangat dibutuhkan riwayat alergi (riwayat alergi keluarga, makanan atau lainnya) untuk menyingkirkan kemungkinan alergi. Dan pemeriksaan fisik untuk melihat langsung kulit daerah gatal yang anda keluhkan.

Pada prinsipnya, sangat banyak agen yang dapat menyebabkan gatal pada kulit. Mulai dari jamur, virus, parasit ataupun bakteri. Jadi tidak bisa langsung dipastikan apa penyakit yang anda derita.

Namun, yang pertama kali yang terlintas di benak saya begitu membaca konsultasi anda, penyebab keluhan anda adalah jamur. Terutama jamur Tinea (ada banyak spesiesnya). Namun ini hanya dugaan saja. Untuk lebih pastinya anda sebaiknya datang ke dokter saja agar bisa dilakukan pemeriksaan pada kulit anda secara langsung.

Terima kasih,
Semoga bermanfaat

dr. Samuel Sembiring
dokter@samuelkarta.com

Di Indonesia kamu bisa membeli antibiotik dengan mudah dan murah. Apotek akan memberikannya bahkan tanpa resep dokter. Satu sisi ini menguntungkan namun di sisi lain juga merugikan. Di negara lain yang lebih maju, apotek tidak akan menjual obatnya (apalagi antibiotik) jika tanpa resep dokter.

Apa untungnya bisa membeli antibiotik tanpa resep? Antibiotik dijual dengan bebas sehingga siapa saja dapat membelinya. Dengan dijualnya antibiotik dengan mudah, siapa saja cukup berani mengobati dirinya sendiri. Sekarang ini sudah banyak sekali konten informasi tentang penyakit di internet. Masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. Informasi tentang antibiotik apa saja bisa kamu dapatkan. Kekurangan, kelebihan bahkan efek sampingnya.

Antibiotik digunakan bila ada infeksi kuman/bakteri. Bila infeksinya adalah virus maka obat yang digunakan adalah antivirus. Walaupun beberapa kasus infeksi virus, antibiotik juga diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.

Seyogyanya, antibiotik diberikan apabila tanda infeksi bisa dibuktikan. Di rumah sakit, pasien biasanya diminta untuk cek darah untuk melihat tanda-tanda infeksi seperti peningkatan leukosit dan neutrofil segmen. Nah, apabila terbukti bahwa ada tanda infeksi maka antibiotik segera diberi, sebaliknya jika tidak maka yang diberi hanya obat simtomatis saja. Antibiotik tidak. Inilah alasan mengapa dokter tidak meresepkan antibiotik walau pasiennya mengeluh demam.

Namun terkadang pada praktiknya, pasien demam sering diberi antibiotik walau tidak didukung dengan pemeriksaan darah. Biasanya hal ini sering dilakukan di klinik atau praktik dokter yang tidak menyediakan pemeriksaan darah. Alasannya disamping pemeriksaan tidak ada, pasien harus mengeluarkan biaya pemeriksaan. Belum lagi harus menunggu hasil pemeriksaannya selesai. Sehingga muncul opini bahwa pemberian antibiotik tanpa didukung pemeriksaan dianggap praktis. Dan di satu sisi hal ini juga sebenarnya menguntungkan pasien.

Menurut pandangan saya, ada beberapa kerugian atau kekurangan bila antibiotik-antibiotik ini bisa dibeli dengan mudah tanpa resep dokter.

1. Dokter dijadikan alternatif kesembuhan bila obat yang dibeli (terutama antibiotik) tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Kebanyakan memang seperti ini. Saya tidak bermaksud menyalahkan. Tidak sedikit pasien yang datang kepada saya ternyata sudah mencoba beberapa antibiotik yang telah dibelinya.

2. Antibiotik menjadi resisten akibat penggunaan yang tidak teratur. Ini yang paling berbahaya sebenarnya. Tentu tidak semua orang patuh makan obat. Memang ada sebagian yang patuh, namun ketika gejala penyakitnya hilang, obat segera distop. Padahal penggunaan antibiotik umumnya harus dikonsumsi sedikitnya selama tiga hari.

3. Munculnya banyak praktisi kesehatan gadungan mendadak. Yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang sama sekali bukan di bidang kesehatan namun sudah belajar banyak soal obat-obat (terutama antibiotik). Mereka belajar banyak melalui pengalaman, buku dan internet sehingga mereka cukup percaya diri untuk menganjurkan beberapa antibiotik.

Tetapi keuntungannya juga ada. Tidak semua masyarakat memiliki ekonomi yang cukup. Sebagian mungkin tidak. Mereka yang keuangannya terbatas mungkin tidak mampu membayar uang administrasi atau dokter yang mahal. Sehingga antibiotik yang dijual bebas ini sangat bermanfaat.

Kini antibiotik dikonsumsi atas inisiatif pribadi. Seharusnya ini tidak boleh. Mengapa? Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya antibiotik dijual dengan resep dokter.

1. Rentan resisten. Antibiotik yang dikonsumsi secara tidak patuh dapat menjadi resisten. Apabila ini terjadi maka harus dipilih antibiotik yang lain masih sensitif. Waktu penyembuhan semakin lama dan biaya pengobatan semakin banyak.

2. Ada efek samping. Efek samping obat tentu ada. Sebab obat adalah racun. Antibiotik harus dipilih sesuai indikasi. Salah satu efek samping antibiotik yang berat adalah syok anafilaktik.

3. Ada interaksi dengan obat lain. Seseorang yang sakit demam mungkin tidak cukup diobati dengan satu jenis obat saja. Tentunya harus dengan kombinasi beberapa obat. Baik itu antibiotik, obat penurun demam (antipiretik) atau obat-obat lain yang sifatnya simtomatis. Masalahnya, setiap obat dapat berinteraksi dengan obat lain. Efeknya ada, bisa menghilangkan efek obat lain, atau meningkatkan efek obat lainnya atau bahkan justru memperburuk kondisi penyakit. Dokter tentunya tahu interaksi obat-obat yang akan diberinya sehingga pasien aman ketika harus mengonsumsi obat antibiotik atau obat lainnya.

4. Harus sesuai dengan dosis. Banyak yang mengira dosis antibiotik itu tiga kali satu atau dikonsumsi sebanyak tiga kali dalam satu hari. Padahal sebenarnya semua dosis dan cara pakai setiap antibiotik itu berbeda-beda. Ada yang dua kali satu dan bahkan ada yang empat kali satu.

Antibiotik memainkan peran yang cukup penting dalam bidang kesehatan. Berbeda dengan masa sebelum antibiotik ditemukan. Faktanya memang angka kematian di masa lalu cukup tinggi jika dibandingkan dengan sekarang. Dengan adanya masalah-masalah yang dipaparkan di atas, sebaiknya antibiotik tidak dikonsumsi secara inisiatif. Kalaupun kondisi mengharuskan demikian, maka penggunaan antibiotik harus sesuai indikasi dan tepat cara pakainya.

Maka alangkah baiknya bila pembelian obat-obat khususnya antibiotik harus dengan resep dokter. Agar hal-hal yang tidak diinginkan di atas tidak terjadi.

Tulisan ini telah diperbarui tanggal 24 Januari 2019

mas morphic
mw konsul nih
aq batuk udh lebih dri 3 minggu blm ke dokter
3 minggu yg lalu aq demam trus sembuh demam aq batuk…
obat2 yg udh aq minum ambroxol,intermoxil,dextamin,vicks,Obh batu berdahak

batuk aq berdahak pagi2 sering buang dahak
klu pagi dahak agak kental…..
gak ada darah tapi
klu siang ama sore biasa aja
tpi batuk aq gak berat
sesekali aja
kadang dada sesak klu malam gag sering x juga

solusinya apa ya …..
plzzzzzzz

(Ikram)

Jawab:
Saya sangat menganjurkan anda untuk segera datang ke dokter. Dokter paru ataupun dokter umum tidak jadi masalah.

Karena menurut saya, batuk yang kamu alami ini sudah seharusnya diperiksa untuk menyingkirkan kemungkinan TBC.

Dari keluhan-keluhan yang kamu katakan, penyakit yang kamu alami ini cukup mirip dengan gejala-gejala klinis TBC (tuberkulosis) meskipun memang harus butuh pemeriksaan lebih lanjut. Namun tidak tertutup kemungkin kamu terkena penyakit lain. Artinya saya tidak bisa pastikan

Nah, saya sendiri sebenarnya terlalu cepat menyimpulkan kamu terkena TBC tanpa pemeriksaan sputum (istilah awamnya: dahak). Artinya saya tidak bisa pastikan penyakit tersebut tanpa pemeriksaan. Untuk itu sebaiknya kamu memeriksakan diri ke dokter paru atau dokter umum.

Terima kasih,
semoga bermanfaat.

dr. Samuel Sembiring
dokter@samuelkarta.com

Ibu saya , HB naik terus, oleh dokter disuruh tapping . Tapi sampai sekarang tidak turun2 juga. Sebenarnya apa penyebab HB naik terus ? Apakah HB yg tinggi berarti darahnya kental ? krn saya takut kalo stroke. Apakah HB naik terus itu penyebab pusing terus menerus yg selama ini diderita ibu saya ? Harus diobati dengan apa ? Dimana sy harus bawa berobat yg tepat untuk ibu saya ?

Mohon jawaban segera ya . Terima kasih .

(Mega)

Jawab:
Penyakit yang dialami ibu anda kemungkinan besar adalah polisitemia vera. Dalam hal ini kekentalan darah meningkat (viskositas darah meningkat) dimana kadar eritrosit naik. Tentunya bersamaan dengan kadar HB yang juga naik.

Nah, kemungkinan besar juga, sakit kepala yang dialami ibu anda dikarenakan penyakit ini. Sebab sakit kepala merupakan salah satu gejala klinis dari polisitemia vera.

Gejala lain yang mungkin terjadi antara lain:
-kelelahan
-sesak nafas, terutama saat berbaring
-perut bagian kiri atas terasa penuh
-wajah terlihat agak kemerahan
-keluhan gatal
-dan lainnya.

Dari beberapa sumber yang saya dapatkan, terkadang penyakit ini bisa menyebabkan stroke memang. Nah, untuk itu sangat dianjurkan ibu anda terus menjalani terapi untuk penyakitnya.

Pengobatan yang paling umum adalah menurunkan kekentalan darah (viskositas darah) dengan cara membuang darah (walaupun bisa menyebabkan berkurangnya volume darah). Dalam medis istilah ini disebut phlebotomi.
Untuk memastikannya lebih lanjut, konsultasikan kepada dokter penyakit dalam.

Terima kasih,
Semoga bermanfaat

dr. Samuel Sembiring
dokter@samuelkarta.com