Software saya kali ini mengulas tentang kalkulasi berat badan ideal. Saya rasa sudah banyak software kedokteran lain yang juga punya fitur seperti ini. Tapi kali ini saya mencoba untuk membuat yang berbahasa Indonesia.

Nah, ini bukan hal yang baru sebenarnya. Sebab sudah ada rumus untuk melakukan penghitungan berat badan ideal.

Software yang sudah saya buat ini untuk menghitung berat badan normal anda berdasarkan tinggi badan sekaligus juga untuk mengetahui apakah anda sudah ideal atau belum. 🙂

Software ini portable, tidak perlu diinstal. Penggunaan software ini mudah. Anda hanya perlu memasukkan angka-angka yang dibutuhkan. Misalnya berat badan anda.

Versi 2.0:
+ Perbaikan bug
+ Penambahan detail nilai IMT
+ Penambahan icon tombol

Versi 1.0
+ Software penghitungan berat badan ideal

sebenarnya dari nilai Framingham adalah untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan peluang seorang pasien dislipidemia mendapatkan komplikasi penyakit jantung koroner (Coronary Heart Disease). Perkiraan hasil nilai Framingham ini pun untuk prediksi selama 10 tahun ke depan.

Pada tahun 1998 ada buku beredar yang berjudul ‘Prediction of Coronary Heart Disease using Risk Factor Categories’. Buku hebat ini ditulis Wilson, D’Agostino, Levy et al. Dalam buku ini dijelaskan bahwa penyakit jantung koroner dapat diprediksikan melalui faktor risiko yang ada. Prediksi ini berlaku selama 10 tahun ke depan (maksimal 12 tahun) dan ditujukan pada individu yang berumur sekitar 30 sampai 74 tahun.

Ada pun prediktor yang digunakan antara lain:

  • Age
  • Diabetes
  • Smoking
  • JNC-V blood pressure categories
  • NCEP total cholesterol categories
  • LDL cholesterol categories

Framingham Score dapat diperoleh dengan dua metode, yaitu metode poin LDL dan poin kolesterol.

(sumber: http://www.framinghamheartstudy.org/risk/coronary.html)

Software ini mengkalkulasi nilai framingham menurut poin LDL. Sedangkan poin kolesterolnya tidak dihitung.

Dari sumber lain, saya mendapatkan tabel framingham berikut.

Tabel ini hanya ditujukan pada pria saja, sedangkan wanita tidak.

Dan memang skor framingham antara pria dan wanita berbeda. Dan penilaian skor antara keduanya juga berbeda. Setelah menyelesaikan software ini, saya mengambil kesimpulan bahwa pria (berdasar faktor-faktor risiko di atas) berpeluang lebih besar menderita penyakit jantung koroner dibanding wanita.

Penggunaan software ini tidak sulit. Anda cukup memasukkan data-data yang dibutuhkan ke dalam form window tersebut.

Berikutnya klik “Calculate” untuk melihat hasilnya.

Lihat gambar di bawah ini.

Sekian dan terima kasih.

By: Samuel Pola Karta Sembiring

http://www.doktersam.id

Akhirnya muncul niat untuk menjual artikel kedokteran yang selama ini saya tulis. Sejak dulu artikel-artikel tulisan saya hanya saya publikasikan di website personal saya. Ini berarti siapa saja dapat mengaksesnya secara gratis. Beberapa kali saya mengirimkan naskah artikel kedokteran ke beberapa surat kabar yang kemudian dimuat di koran. Puji Tuhan, uang saku bisa bertambah.

Percaya atau tidak, menulis itu memang membawa keuntungan. Banyak sekali. Dari segi ilmu sendiri, menulis justru mempertajam keilmuan si penulis. Ibarat mengasah pisau, ilmu pun terasah dengan menulis. Keuntungan lain tentu mendapatkan honor menulis. Mungkin dari ratusan artikel yang saya tulis, kalua tidak salah hanya sekitar 10-15 artikel saja yang berhasil menghasilkan honor.

Artikel ditolak itu wajar. Sebenarnya ini juga termasuk proses belajar. Dulunya saat saya mahasiswa, saya mengirim sekitar dua belas artikel ke surat kabar, dan hanya dua di antaranya yang dimuat. Tidak kecewa. Karena saya saat itu masih pemula. Saat ini, setiap kali saya mengirimkan, pasti selalu dimuat.

Sesuai dengan judul, kali ini saya ingin mencoba menjual artikel-artikel saya secara mandiri. Artikel yang akan saya tulis akan saya unggah ke play store (google book), sehingga saya tidak perlu susah memikirkan bagaimana cara mencairkan penghasilannya nanti.

Apakah akan laku? Kita tidak tahu. Tapi kita tidak boleh menurunkan standar kita. Selama kita yakin kemampuan kita berkualitas, tidak ada alasan untuk menghargainya.

Sekitar dua bulan yang lalu, laptop saya mati total karena tersiram air. Tidak bisa dihidupkan. Tombol on off juga tidak berfungsi. Akhirnya saya membawa laptop ke teknisi service laptop di suatu mall di Bandung. Untung tidak ada kerusakan. Hanya ada beberapa komponen yang basah di dalam mesin. Setelah dikeringkan dan diperiksa disana sini akhirnya laptop saya berhasil dihidupkan.

Saya dikenakan biaya sebesar 700 ribu untuk memperbaiki laptop saya. Saat saya tanya apa yang membuat harganya begitu mahal, si teknisi menjawab: “ilmunya yang mahal pak”. Saya sempat tidak habis piker. Saya sebagai dokter merasa ilmu kedokteran justru lebih mahal. Tetapi harga jasa dokter sekarang tidak lebih besar dari teknisi computer.

Nah, berangkat dari itu, saya akhirnya berani untuk memberi nilai dari artikel-artikel yang saya tulis. Artikel-artikel tersebut merupakan ilmu. Ilmu yang berdasarkan bukti dan ter-update. Tentu saya harus menyajikan artikel yang enak dibaca, dapat dipercaya dan informatif.

Harga pasaran artikel sebenarnya variatif. Tidak ada yang tentu. Ada harga sukarela dan ada harga jutaan. Di pasaran artikel dengan 200 hingga 300 kata dapat dihargai 5.000 rupiah,  ada pula artikel dengan 500 – 600 kata dihargai 30.000 rupiah. Harga artikel juga bergantung pada penulis. Beberapa penulis mungkin ada yang mematok harga yang mahal, sedangkan yang lain mungkin menjual artikel dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Sangat bervariasi.

Artikel kedokteran haruslah mengikuti perkembangan zaman. Artikel yang out of date seharusnya tidak lebih mahal dengan artikel yang update. Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, kita bisa menentukan harga artikel yang kita tulis.

Ada pandangan yang lain, kalau kita memang menghargai artikel kita seharusnya kita tidak perlu menjual atau memberikannya harga. Seharusnya free karena tidak ternilai. Hal tersebut hanyalah soal pandangan saja. Memberi harga sebuah artikel bukanlah suatu sikap yang tidak menghargai karya sendiri kok.

Melalui tulisan ini juga, saya ingin mengajak pembaca agar mau menulis lebih giat. Karena tidak ada yang merugikan dari menulis. Berikutnya, saya harapkan juga para teman pembaca untuk memulai menjual artikelnya juga.

Pemilu sudah selesai, tetapi panasnya pemilu masih terasa hingga sekarang. Dulunya saya pernah berpikir, polarisasi yang ada di tengah masyarakat mungkin akan berakhir setelah pemilu selesai. Nyatanya tidak. Tetap ada polarisasi walau dengan tema yang berbeda. Bisa jadi setelah presiden baru dilantik, polarisasi terus tetap ada. Hoax bertebaran di mana-mana. Barisan sakit hati tetap mengeksiskan dirinya. Mungkin tetap sabar menanti pilpres berikutnya.

Belakangan ini saya melihat sosial media dipenuhi berita-berita tentang pilpres. Pilpres memang sudah selesai, tapi saya bukannya tenang, saya malah khawatir dengan berita-berita atau kabar yang bersliweran di sosial media. Terutama facebook. Tahukah kamu bahwa berita-berita terkait pilpres yang di share facebook itu didominasi hoax dan disinformasi? Saya prihatin dengan banyaknya berita yang dishare tanpa dianalisis terlebih dahulu. Malah ada juga yang mencuatkan kabar-kabar yang tidak benar. Ini justru sangat mengkhawatirkan kita semua.

Berita paling hot yaitu tentang “quick count”. Betapa riuhnya berita ini ketika quick count mulai di tampilkan pukul 15.00 WIB pada tanggal 17 April 2019. Sebenarnya beberapa hasilnya sudah terkumpul segera setelah penghitungan pada tingkat TPS selesai. Tetapi memang sudah ada kebijakan bahwa quick count baru boleh ditampilkan dua jam setelah pemungutan suara selesai.

Ada yang pro dan ada yang kontra dengan hasil quick count yang di TV. Tidak masalah. Ada juga hasil quick count yang berbeda. Berbeda yang saya maksud bukan perbedaan beberapa poin persen tetapi berbeda hasil kemenangan. Ada yang memenangkan paslon 01 dan ada yang memenangkan paslon 02. Ini sangat membingungkan.

Beberapa waktu kemudian, akhirnya KPU mulai menghitung “Real Count”. Bedanya pilpres kali ini, hasil real count dapat diakses melalui website resmi KPU. Sehingga kita tidak perlu menunggu hasil akhir pada tanggal 22 Mei 2019 nanti. Kalau dulu, kita terpaksa menunggu hingga kurang lebih sebulan sebelum KPU merilis hasil akhir pemilu. Alhasil, kita menjadi sangat bertanya-tanya, siapa sih yang menang? Kali ini kita bisa memantau langsung hasilnya. Menarik bukan? Malah kantor KPU Pusat juga terbuka bagi masyarakat kalau mau memantau langsung jalannya rekapitulasi hasil pemilu.

Menariknya, ternyata ada kekeliruan entry atau input data pada website KPU. Misalnya seperti gambar berikut ini.

Hal ini sebenarnya sangat berbahaya. Walaupun sebenarnya, inti dari kejadian ini adalah “kekeliruan input data”. Hanya sebatas itu, tapi opini akhirnya tergiring. Satu sisi, ini menjadi bahan bagi sebagian pendukung paslon 02 untuk meyakinkan diri mereka bahwa pihak paslon 01 melakukan kecurangan. Di sisi lain, para pendukung paslon 01 berupaya membela diri, mencari data-data pendukung dan melakukan counter attack. Berikutnya, situasi terus memanas.

Padahal sebenarnya tidak. Mengapa? Ini perlu saya jelaskan, agar para pendukung kedua paslon tidak lagi panas alias berdebat.

Pertama, kekeliruan ini tidak ada sangkut pautnya dengan paslon manapun. KPU bekerja independen. Jadi kekeliruan ini murni merupakan kekeliruan input data oleh KPU alias “human error”. KPU diawasi Bawaslu dan elemen-elemen lainnya. Masyarakat pun mengawal. KPU harus bebas dari tekanan-tekanan dan dari pengaruh-pengaruh faktor eksternal.

Sejauh ini, KPU sudah bekerja dengan baik dan sangat maksimal. Soal kalkulasi real count, mereka bekerja 24 jam. Data di website diperbaharui secara terus menerus setiap sekitar lima belas menit hingga setengah jam.

Kedua, kekeliruan ini sebenarnya tidak sepenuhnya merugikan pihak paslon 02, tetapi juga pihak paslon 01. Dan pendukung paslon 01 pun tidak harus berjuang membela diri. Karena sebenarnya dalam hal ini tidak ada dari kedua pihak yang curang. Perhatikan gambar berikut ini.

Bisa disimpulkan, bila ada kekeliruan seperti ini seharusnya cukup dilaporkan ke KPU saja. Tidak perlu tuduh-menuduh. Sikap saling menyalahkan hanya memicu provokasi nantinya.

Hasil yang kita lihat bersama di website resmi KPU hanyalah untuk ditampilkan saja. Data yang dirilis di website KPU bukan lah data mentah yang dimiliki KPU. Sekali lagi, itu hanya data untuk ditampilkan saja. Hanya publikasi saja. Sengaja diinput agar masyarakat dapat melihat. Sebatas itu. Ini sebenarnya membantu kita, supaya kita bisa menikmati hasil-hasil pemungutan suara. Juga kita bisa melihat hasil dari TPS-TPS lain.

Data asli hanya ada di atas kertas. Dan penghitungan manual juga dilakukan di atas kertas (juga pada software pengolah data). Pengerjaan penghitungan ini tentunya dikerjakan oleh ahlinya, mungkin menurut saya adalah ahli statistik atau matematika atau ahli-ahli lain yang sesuai dengan bidang ini. Hasil-hasil form C1 ini dikalkulasi yang hasilnya juga tertera di atas kertas (atau di software pengolah data).

Bagaimana bila ada kecurangan dengan mengubah data form C1 sebelum dikirim ke KPU pusat? KPU tidak senaif itu. Memang pengiriman dapat memakan waktu. Apalagi hasil TPS yang berada di daerah perifer. Tentu waktu pengirimannya cukup lama. Tetapi, hasil form C1 sudah harus discan atau paling tidak difoto terlebih dahulu sebelum data fisiknya dikirim. Ini untuk memperkecil kecurangan. Bagaimana kalau yang discan adalah form C1 yang dicurangi? Tenang, ada Bawaslu. Saksi-saksi dari kedua pihak paslon juga ada. Beberapa caleg juga menetapkan saksi mereka pada TPS-TPS.

Data-data ini nantinya akan dicocokkan. Kotak suara juga akan dibuka dan dihitung ulang. Ini yang disebut “Double Check”. Proses ini tidak dikerjakan oleh seorang diri didalam kamar ruang tertutup, justru dilakukan didepan banyak saksi supaya proses ini transparan.

Setelah dikalkulasi oleh ahlinya, hasil-hasil ini kemudian diinput ke website. Pengerjaan ini sudah pasti bukan dilakukan oleh ahli statistik atau ahli hitung yang tadi, tetapi bisa jadi ahli IT atau tenaga-tenaga lain. Jelas berbeda kan? Kita berbicara porsi pekerjaan. Sama halnya, di rumah sakit. Tidak mungkin dokter yang mengerjakan pendaftaran pasien lalu mengobatinya kemudian mengambil stok obat dari gudang farmasi. Demikian juga dengan pengerjaan penghitungan di KPU ini.

Berhubung penginputan data ini masih dikerjakan oleh SDM manusia, maka tidak mungkin hasilnya 100% luput dari kelalaian. Kelalaian dalam bekerja selalu ada. Dengan ketelitian, mungkin peluang kelalaian dapat diperkecil.
Total TPS kita sebanyak 800.000 lebih. Itu adalah angka yang besar, yang kemudian diklaim juga bahwa pemilu di Indonesia tergolong besar dan rumit.

Maka kita anggaplah kelalaian input data sekitar 1%. Ini sebenarnya adalah angka yang nyaris sempurna, karena kita sudah tegaskan 99% data yang lain sempurna. Beberapa penelitian malah menetapkan 5% sebagai angka kesalahan

Kalau kita ambil angka kekeliruan input data sebanyak 1% maka itu berarti ada sekitar 8000 TPS yang input datanya keliru. Wah, ini angka yang besar sekali. Tetapi saya yakin bahwa kesalahan entry data pada website KPU tidak mencapai 8000 TPS. Untuk membuktikan kesalahan 1000 TPS saja sebenarnya kita tidak mampu. Artinya kesalahan pengerjaan oleh tim KPU tidak sampai 1%.

Berikutnya KPU akhirnya memberikan solusi bahwa apabila dijumpai kekeliruan cukup dilaporkan saja. KPU sendiri mengakui ada kesalahan. Jadi saya rasa sudah tidak ada masalah lagi. Kita harus tetap kawal KPU. Kita harus monitor hasil-hasil suara di TPS. Itu lah gunanya website KPU. Bila dijumpai kekeliruan angka lagi, tingga report. Gitu aja kok repot!

#ayoberpikirkritis #ayoberpikirbebas