NEW YORK (Reuters Health) Mar 10 – Gangguan perut serius dapat meningkatkan risiko anak menderita penyakit IBS, menurut penelitian terbaru.

Orang dewasa yang mengalami infeksi perut diduga sebagai risiko terbesar pada IBS, namun kaitan antara infeksi tersebut dengan IBS pada anak tidak jelas, si peneliti berkata.

Untuk memastikannya lebih lanjut, Dr. John K. Marshall dari Universitas McMaster di Hamilton, Ontario bersama kolega-koleganya meneliti anak-anak yang berpartisipasti di studi kesehatan Walkerton, penelitian terbesar penyakit IBS setelah infeksi gastrointestinal.

Pada tahun 2000, terjadi wabah bakteri gastroenteritis yang menjangkiti setidaknya 2300 orang di kota Ontario ini dan menewaskan 7 orang. Akhirnya para peneliti pun mengamati perkembangan penduduk Walkerton sejak 2002.

Pada studi tersebut, mereka mengamati 467 anak-anak laki-laki dan perempuan yang lebih muda dari 16 tahun saat terjadi wabah, namun akan menginjak umur 16 tahun saat periode tindak lanjut selama 8 tahun. Tak satupun dari mereka yang didiagnosis menderita IBS sebelum wabah terjadi.

Di antara 305 anak yang terjangkiti saat wabah, sekitar 10% dilaporkan memiliki gejala IBS setelah 8 tahun kemudian, dibandingkan dengan mereka yang tidak terjangkiti (162 anak) yang hanya 2%. Ketika para peneliti hanya mengamati 130 partisipan yang penyakitnya (akibat wabah) telah didiagnosis oleh dokter, risiko munculnya gejala IBS tujuh kali lipat lebih hebat dibanding mereka yang luput dari penyakit wabah.

The findings were published online February 23rd in the American Journal of Gasteroenterology.

Am J Gastroenterol 2010.

Sumber:

“Kids’ Stomach Bugs Tied to Irritable Bowel Syndrome” (http://www.emedicine.com)

Jika kamu mengendarai skateboard atau bermain olahraga kamu mungkin kenal betul istilah memar dan lutut atau siku terluka. Nah, bagi mereka dengan penyakit perdarahan yang jarang seperti hemofilia, luka kecil dan memar bisa jadi masalah besar.

Apakah hemofilia itu?

Hemofilia adalah penyakit yang mencegah darah dari pembekuan, sehingga penderita hemofilia mengalami perdarahan lebih lama dibanding orang normal. Gangguan ini merupakan penyakit genetik, yang artinya penyakit ini dapat timbul akibat perubahan gen baik yang diturunkan (diwariskan dari orang tua kepada anak) maupun terjadi saat perkembangan di dalam rahim. “Hemo” berarti darah dan “philia” berarti kecenderungan. Seseorang dengan hemofilia cenderung mengalami perdarahan berlebih. Hemofilia kebanyakan terjadi pada pria walaupun sebenarnya cukup jarang terjadi. Hanya sekitar 1 dari 5000 anak laki-laki yang terlahir dengan hemofilia. Penyakit ini dapat diderita setiap orang dari setiap ras ataupun bangsa.

Ketika seseorang terluka, biasanya tubuh melindungi dirinya sendiri. Platelet dalam darah saling melekat satu sama lainnya pada lokasi perdarahan dan menyumbat lubang luka. Ini adalah langkah awal dalam proses pembekuan. Ketika platelet menyumbat lubang, mereka mengeluarkan bahan-bahan kimia yang menarik lebih banyak platelet yang sticky (lengket) dan juga mengaktifkan berbagai protein dalam darah yang dikenal sebagai faktor pembekuan. Protein-protein ini bercampur dengan platelet membentuk serat fiber dan serat-serat ini membuat pembekuan semakin kuat dan menghentikan perdarahan.

Tubuh kita memiliki 12 faktor pembekuan yang bekerja sama dalam proses ini (dinomori dengan angka Romawi dari I sampai XII). Jumlah faktor VIII dan IX yang sedikit merupakan penyebab hemofilia. Penderita hemofilia hanya kekurangan satu faktor saja, baik itu faktor VIII ataupun faktor IX, yang jelas tidak keduany.

Ada dua jenis utama hemofilia. Sekitar 80% dari kasus hemofilia tergolong hemofilia A yang kekurangan faktor VIII, sedangkan hemofilia B jika kekurangan faktor IX.

Hemofilia dapat diklasifikasikan atas 3 kelompok yaitu ringan, sedang, dan berat berdasarkan jumlah faktor pembekuan dalam darah seseorang. Jika seseorang hanya menghasilkan 1% atau kurang dari faktor yang terlibat, kasus tersebut disebut berat. Seseorang yang menghasilkan 2% – 5% memiliki kasus sedang dan mereka yang menghasilkan 6% – 50% dari faktor yang terlibat disebut hemofilia ringan. Umumnya orang yang menderita hemofilia cukup jarang mengalami perdarahan berlebih, sebaliknya masalah perdarahan bisa jadi masalah besar bagi mereka dengan hemofilia berat.

Kebanyakan penderita hemofilia telah menyadari kondisi mereka sejak masih bayi. Terkadang penyakit hemofilia ringan bisa jadi tidak disadari si penderita. Dan hal ini baru disadari setelah mendapat pembedahan minor – seperti pengangkatan tonsil ataupun pengambilan appendix – dan diketahui pada tes darah yang dilakukan dokter sebelum melakukan pembedahan.

Apa penyebab hemofilia?

Pria dan wanita masing-masing memiliki 23 pasang kromosom. Wanita memiliki dua kromosom X; pria memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y. Hemofilia merupakan penyakit genetik terpaut X, yang berarti penyakit ini diwariskan dari ibu ke anak laki-laki pada kromosom X. Jika si ibu membawa gen hemofilia pada salah satu kromosom X-nya, setiap anak laki-lakinya memiliki peluang 50% untuk menderita hemofilia.

Walaupun anak perempuan jarang menunjukkan gejala hemofilia, mereka dapat menjadi pembawa penyakit ini. Pada beberapa kasus, anak perempuan yang pembawa dapat mengalami gejala perdarahan ringan. Bagi anak perempuan untuk menderita hemofilia, mereka harus mendapat kromosom dari ayahnya yang hemofilia, dan juga kromosom X dari ibunya yang merupakan pembawa. Walaupun ini sangat mungkin terjadi namun sangat kecil kemungkinannya.

Apa saja tanda dan gejalanya?
Jika kamu baru saja menyadari bahwa kamu penderita hemofilia, mungkin kamu mengidap tipe hemofilia yang ringan.

Gejala hemofilia antara lain:
– Memar dengan jumlah dan pada lokasi yang tidak biasanya
– Perdarahan hidung yang tidak segera berhenti
– Perdarahan berlebih akibat menggigit bibir atau mencabut gigi
– Nyeri sendi atau pembengkakan sendi
– Darah pada urin

Apa yang harus dilakukan dokter?

Dokter mendiagnosis hemofilia dengan melakukan tes darah. Walaupun penyakit ini tidak dapat disembuhkan (kecuali dengan transplantasi hati), namun penyakit ini masih dapat dikontrol dengan baik.

Luka yang kecil biasanya tidak menjadi masalah yang besar bagi penderita hemofilia, sebagaimana halnya dengan orang normal. Namun demikian, perdarahan internal bisa menjadi hal yang serius. Ketika perdarahan terjadi di sendi, otot atau organ-organ tubuh bagian dalam, pengobatan sangatlah diperlukan. Pasien dengan kasus hemofilia yang lebih serius sering mendapat suntikan faktor yang mereka butuhkan – dikenal dengan clotting factor replacement therapy – untuk mencegah perdarahan lebih lanjut. Faktor pembekuan ditransfusi pada pasien secara intravena pada pembuluh venanya dan dapat diberikan di rumah sakit, kantor dokter/praktik dokter atau di rumah.

Organ-organ dengan kasus hemofilia ringan atau sedang biasanya tidak membutuhkan terapi injeksi ini kecuali jika mereka mengalami luka serius atau membutuhkan pembedahan. Jika kamu memiliki hemofilia, kamu sebaiknya bekerja sama dengan tim medis yang terdiri dari hematologis (dokter spesialis penyakit darah), suster dan pekerja sosial. Tim medismu akan membantumu untuk mengenal bagaimana rasanya ketika kamu mengalami perdarahan internal (daerah dimana terjadi perdarahan biasanya terasa hangat dan gatal atau bubbly). Hal ini perlu untuk diketahui karena ketika kamu mulai merasakan adanya perdarahan internal kamu harus segera menginfus faktor pembekuan yang hilang dalam darahmu untuk menghentikan perdarahan. Kalau ditunda akan membawa dampak buruk pada sendi.

Jika kamu ingin menginjeksi faktor pembekuan di rumah, tim medismu akan mengajarkanmu dan orang tuamu bagaimana mencampurkan faktor pembekuan dan menginjeksikannya pada pembuluh vena. Jika kamu mengalami perdarahan yang sangat sering, doktermu mungkin menyuruhmu menginfus faktor pembekuan secara reguler pada tempat injeksi yang sama. Kalau kasusnya demikian kamu akan mendapatkan pipa kecil yang disebut portacath yang ditanamkan pada dadamu. Dengan cara itu, kamu tidak perlu lagi mencari pembuluh venamu untuk injeksi dan tidak akan ada lagi rasa sakit setiap kali selesai menginfus.

Para ilmuwan kini sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang disebut terapi gen untuk mereka yang menderita hemofilia. Terapi gen merupakan teknik eksperimental yang berfungsi untuk memberikan informasi mengenai hal-hal yang tidak dimiliki tubuh. Untuk penyakit hemofilia, sangat baik digunakan terapi gen karena hanya ada satu defektif gen. Para ilmuwan berharap mereka dapat membantuk penderita hemofilia dengan informasi genetik dari terapi gen mengenai faktor pembekuan yang mereka butuhkan.

Penyesuaian diri dengan Hemofilia

Jika kamu menderita hemofilia, hidupmu dari hari ke hari mungkin saja normal. Latihan juga sangat penting bagi remaja hemofilia karena dapat membuat otot semakin kuat yang dapat mencegah kerusakan sendi dan mengurangi perdarahan. Berenang dan bersepeda sangat baik karena olahraga-olahraga ini tidak menekan sendi. Sebenarnya kamu dapat bermain berbagai olahraga baik itu olahraga tim seperti sepak bola, basket, atau baseball walaupun berisiko tinggi bahkan olahraga kontak seperti football, tinju, lacrosse, dan hoki juga boleh meski dilarang karena risiko terkena luka sangat tinggi.

Sangatlah penting untuk menjaga berat sehat (berat ideal) karena tambahan berat dapat memperburuk kondisi tubuh. Dan jangan mengonsumsi produk apapun yang mengandung aspirin, ibuprofen, atau naproxen sodium. Semua ini dapat memicu perdarahan dari pembekuan. Jika kamu menderita hemofilia dan ingin berkeluyuran dengan teman-teman lain yang menderita hemofilia juga, kalian dapat memilih pergi camping bersama remaja hemofilia. Kalian dapat lakukan semua hal yang menyenangkan yang ada di camp, sekaligus belajar bagaimana mengontrol kondisi diri sendiri.

Disaat seperti itu kamu akan merasa benar-benar gembira. Cobalah untuk mengingat bahwa kamu tidak sendirian. Berbicaralah pada ayah-ibumu, doktermu, suster atau siapa saja di tim medismu. Mereka dapat membantumu mengatasi masalahmu.

Menderita hemofilia bukan berarti tidak dapat bekerja, berkeluyuran, memiliki pacar, atau hal-hal lain yang ingin remaja lakukan, kamu harus cerdas mengontrol dirimu. Pelajari semua yang kamu bisa lakukan sehingga kamu dapat merawat diri sekaligus membuat keputusan yang tepat bagimu.

Reviewed by: Gregory C. Griffin, MD (September 2007)

sumber:

http://kidshealth.org/teen/

Apa itu Hemofilia?

Hemofilia merupakan gangguan perdarahan yang cukup jarang terjadi dimana darahmu tidak dapat membeku secara normal.

Jika kamu penderita hemofilia, kamu mungkin mengalami perdarahan lebih lama dibanding orang normal sesudah terluka. Dan mungkin juga perdarahan internal, khususnya pada lututmu, pergelangan kaki, dan siku. Perdarahan ini dapat menyebabkan kerusakan organ atau jaringan tubuhmu dan bahkan kematian.

Tinjauan

Hemofilia biasanya diturunkan. Ini artinya gangguan tersebut diwariskan dari orang tua kepada anak melalui gen.

Orang yang terlahir dengan hemofilia hanya memiliki sedikit faktor pembekuan atau bahkan tidak ada. Faktor pembekuan merupakan protein yang dibutuhkan pada pembekuan darah secara normal. Faktor-faktor pembekuan ini terdiri dari beberapa tipe. Protein-protein ini bekerja bersama platelet untuk membantu pembekuan darah. Platelet merupakan fragmen kecil darah yang dibentuk di sumsum tulang – semacam jaringan mirip spons pada tulang. Platelet sangat berperan banyak pada pembekuan darah.

Ketika pembuluh darah terluka, faktor pembekuan membantu platelet saling melekat untuk menyumbat luka di lokasi kerusakan dan menghentikan perdarahan.

Ada dua tipe hemofilia (saat ini sudah 3 tipe). Jika kamu penderita hemofilia A, berarti kamu tidak memiliki atau kekurangan jumlah faktor pembekuan VIII. Sekitar 9 dari 10 penderita hemofilia tergolong hemofilia A. Jika kamu penderita hemofilia B, berarti kamu tidak memiliki atau kekurangan jumlah faktor pembekuan IX.

Cukup jarang, hemofilia diderita secara acquired (diperoleh). Ini artinya kamu juga memiliki kemungkinan menderita hemofilia selama hidupmu. Ini dapat terjadi jika tubuhmu membentuk antibodi (protein0 terhadap faktor pembekuan dalam aliran darahmu. Antibodi mampu mencegah faktor pembekuan untuk bekerja secara normal.

Sudut Pandang

Hemofilia bisa jadi ringan, sedang ataupun berat, tergantung seberapa banyak faktor pembekuan yang ada pada darah. Sekitar 7 dari 10 penderita hemofilia A tergolong tipe hemofilia berat.

Orang yang tidak menderita hemofilia memiliki aktivitas faktor VIII mencapai 100%, sedangkan orang yang menderita hemofilia A berat memiliki aktivitas faktor VIII dibawah 1%.

Sekitar 18000 orang di Amerika Serikat menderita hemofilia. Setiap tahun, sekitar 400 bayi terlahir dengan penyakit ini. Hemofilia biasanya terjadi pada pria.

sumber:

http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/hemophilia/hemophilia_what.html.

Permainan Olahraga otak memperbaiki Kemunduran Ingatan pada Orang dewasa lanjut usia.

By: Pam Harrison

8 Maret 2010 (Savannah, Georgia) – Orang tua yang bermain game BrainFitness menunjukkan perbaikan yang signifikan pada area memori yang rusak dalam waktu 6 bulan dibanding kelompok kontrol aktif yang mengalami kemunduran ringan, menurut penemuan yang dipaparkan di American Association of Geriatric Psychiatry 2010 Annual Meeting.

Karen Miller, PhD, Universitas California di Los Angelos melaporkan bahwa perbedaan signifikan ini telah diobservasi selama 6 bulan. Hal ini dilakukan setelah diadakan randomisasi antara kelompok intervensi yang diberikan pelatihan game Dakim BrainFitness dengan kelompok kontrol, walaupun setelah 2 bulan pelatihan, kelompok kontrol juga diberi pelatihan yang sama dengan kelompok intervensi.

lansiamaingameDinilai dengan 4 tes memori yang berbeda, kelompok yang bermain game BrainFitness selama 6 bulan penuh memperoleh 2 poin pada Memory Score, meningkat dari 10,4 menjadi 12,1 secara bertahap.

Berbeda dengan kelompok kontrol yang hanya bermain sejak bulan kedua hingga bulan keenam. Kelompok ini mengalami penurunan ringan dari 10,2 menjadi 10,1. Jumlah subjek yang disertakan dalam pengujian ini sebanyak 38 orang tua. 22 Orang dengan rata-rata umur 82 tahun kepada pada kelompok intervensi dan 16 lainnya dengan rata-rata umur 83 tahun di kelompok kontrol.

“Pada bulan keenam, kelompok intervensi telah bermain dua kali lipat lebih banyak (93 sesi) dibanding kelompok kontrol yang hanya 40 sesi. Jadi inilah manfaat jangka panjang yang memperbaiki ingatan secara keseluruhan. Manfaat maksimum akan anda peroleh jika anda terus bermain.” Kata Dr. Miller pada Medscape Psychiatry.

Pilot Study

Sebelum me-launching percobaan klinik ini, Dr.Miller bersama kolega-koleganya mengadakan Pilot Study yang melibatkan 22 subjek dengan rata-rata umur 74 tahun yang telah bermain Dakim BrainFitness ataupun kelompok kontrol lain.

Partisipan dianjurkan bermain game selama 5 kali seminggu, setiap sesinya memakan waktu 30 menit selama 2 bulan. Pada akhir bulan kedua Pilot Study, dapat dilihat dampak kecil pada satu tes memori.

Menyadari bahwa versi khusus game BrainFitness tidak memenuhi aspek pelatihan memori, termasuk encoding dan memori jangka-panjang, investigator UCLA membantu Dakim untuk mendesign ulang gamenya. Versi yang mereka pakai pada uji coba terakhir kini mampu melatih memori jangka-pendek, berpikir kritis, visual spatial skills, memori jangka-panjang, kalkulasi dan bahasa.

“Ada sekitar 300-400 variasi permainan atau format (episode) yang teracak setiap kali dimainkan. Jadi tidak ada format yang sama dimainkan setiap kali bermain,” kata Dr. Miller.

“Lalu ada juga 5 level yang dapat dipilih, terserah ingin pilih level yang atas ataupun lebih rendah, tergantung aspek memori masing-masing,” tambahnya.

Dr. Miller juga menekankan bahwa untuk melihat efek pelatihan pada memori, subjek diharuskan untuk melakukan tes atau uji memori secara reguler, biasanya lewat perilaku gaya hidup seperti latihan dan reduksi stres.

Dia juga yakin pelatihan dengan menggunakan komputer hanya akan bermanfaat mencegah kemunduran ingatan pada mereka yang masih memiliki ingatan yang baik

Alat pelatihan memori seperti program yang dimodif dan dipakai grup UCLA sepertinya juga menguntungkan subjek yang memiliki kerusakan amnestic memory maupun tanpa kerusakan.

Dr. Miller menekankan, menurut pengalamannya, subjek dengan kerusakan yang banyak di otaknya cenderung memburuk dengan cepat walaupun mereka menggunakan alat BrainFitness secara reguler.

“Semakin lama seseorang menggunakan program BrainFitness, justru akan semakin memperbaiki kemampuan verbal dan visual memory mereka. Walaupun kamu tidak mempunyai keahlian komputer, kamu masih dapat menggunakannya” kata Dr. Miller.

Preliminary Results

Gary Small, MD, Universitas California di Los Angeles berkata pada Medscape Psychiatry bahwa rencana awal penelitian mereka ini adalah sebagai “encouraging” (sebagai pendorong) dan program Dakim BrainFitness sendiri merupakan alat yang populer di pasaran dimana alat tersebut dipakai.” Alat-alat ini sangat disesuaikan dengan mereka (generasi tua), serta dilengkapi dengan layar sentuh, sehingga mereka bisa menikmatinya,” tambahnya. Di lain sisi, perusahaan yang memproduksi game BrainFitness harus memastikan bahwa manfaat gamenya tercapai. Yaitu untuk kesenangan si pemain dan untuk melatih semua area memori.

“Masalah yang sesungguhnya ialah apakah semua program ini mampu memperbaiki kemampuan kognitif si pemain?” Dr. Small menambahkan bahwa harus ada kombinasi antara jenis permainan dan teknik bermain pada game agar game ini mampu memperbaiki kemampuan kognitif seperti yang telah dilakukannya pada pelatihan. Tergantung perusahaan game sendiri, apakah mereka berniat untuk melakukan hal tersebut.

American Association for Geriatric Psychiatry’s (AAGP) 2010 Annual Meeting: Session 212. Presented March 6, 2010

sumber: http://emedicine.com

alihbahasa: dr. Samuel Pola Karta Sembiring

Siapa bilang penderita PJK harus beristirahat setiap saat? Atau tidak boleh terlalu banyak kegiatan? Seorang penderita PJK masih boleh beraktivitas setiap harinya kok, tapi tentunya harus dengan gaya hidup sehat yang tepat. Apalagi di masa liburan seperti ini, seorang penderita PJK bukan berarti tidak boleh pergi berlibur atau menikmati banyak kegiatan. Justru sebenarnya mereka butuh menikmati liburan mereka.
joginggg
Penyakit seperti apa PJK itu?
PJK atau Penyakit Jantung Koroner merupakan penyakit akibat menyempit atau tersumbatnya pembuluh darah arteri koroner di jantung. Arteri koroner ini berfungsi sebagai mengalirkan darah yang mengandung oksigen untuk mensuplai kebutuhan jantung akan oksigen. Jadi logikanya, jika arteri koroner ini terhambat maka jantung akan kekurangan oksigen.

Sederhananya, terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan jantung akan oksigen.

Penderita PJK biasanya mengalami rasa nyeri amat sangat di dada sebelah kiri. Rasa nyeri-nya bisa bermacam-macam. Bisa jadi seperti rasa tertusuk, terbakar, tersayat ataupun tertimpa benda berat. Nah, rasa nyeri ini terkadang bisa dirasakan seolah menyebar atau menjalar ke bagian tubuh lain seperti punggung, leher , lengan kiri ataupun rahang.

Rasa nyeri yang dirasakan oleh penderita PJK dinamakan angina pectoris. Ada tiga jenis angina pectoris, yaitu angina stabil, angina tak stabil dan angina varian. Angina stabil bila rasa nyeri timbul ketika beraktivitas berat, angina tak stabil jika rasa nyeri timbul baik saat istirahat maupun saat istirahat ringan sedangkan angina varian sedikit mirip dengan angina tak stabil yaitu rasa nyeri bisa terjadi saat istirahat. Bedanya pada angina tak stabil terjadi plak yang ruptur sehingga menghambat aliran darah, sementara pada angina varian hanya terjadi penyempitan pembuluh darah arteri koroner tanpa adanya gangguan yang signifikan pada pembuluh darah tersebut.

Mengapa Rasa Nyeri Dada Muncul Saat Beraktivitas?
Aktivitas fisik yang berlebih bisa mengakibatkan rasa nyeri yang luar biasa pada dada kiri penderita PJK. Mengapa bisa demikian? Nah, saat beraktivitas yang berlebih, jantung pun bekerja dengan keras untuk mengimbangi kebutuhan oksigen pada jaringan dan sel seluruh tubuh. Pada saat itu pula jantung yang sudah bekerja lebih keras dari biasanya, akhirnya membutuhkan asupan oksigen lebih banyak dari pembuluh darah arteri koroner. Jadi, seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan oksigen pada jantung penderita PJK.

Lalu Bagaimana Seharusnya Penderita PJK beraktivitas?
Dengan perubahan gaya hidup dan juga pengobatan yang teratur, penderita PJK mampu mengontrol penyakitnya. Misalnya dengan diet sehat, mempertahankan berat badan optimal (bagi yang berberat badan lebih tentunya harus menurunkan berat badannya), berhenti merokok, olahraga ringan dan mampu memanajemen stress. Dan tidak lupa juga memeriksa angka gula darah, mengontrol tekanan darah, dan juga mengontrol kolesterol.

Salah satu olahraga yang dianjurkan ialah jogging selama lebih 30 menit minimal tiga kali dalam seminggu. Latihan ini dapat membakar lemak dan kolesterol, karena lemak baru akan dibakar sebagai energi ketika sudah berolahraga diatas kurang lebih 30 menit. Selain itu dengan berolahraga, sensitivitas insulin dapat meningkat sehingga dapat mengurangi risiko diabetes melitus atau mengontrol gula darah bagi penderita diabetes melitus.

Penderita PJK juga mungkin membutuhkan seorang konselor (seorang tenaga kesehatan) agar perkembangan penyakitnya dapat dikontrol. Sekaligus juga si penderita PJK dapat menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti atau membicarakan tentang penyakitnya pada si konselor. Atau dengan kata lain, harus ada hubungan atau komunikasi yang reguler antara si penderita dan konselornya mengenai penyakit si penderita.

Adakah larangan makanan?
Salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner adalah diabetes atau penyakit gula. Nah, jadi penderita PJK dianjurkan untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak sekali gula ataupun lemak. Hindari makanan-makanan seperti mie, daging hewan yang belemak, ataupun makanan berlemak lain. Kurangi juga mengonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung gula.

Sebaliknya rajinlah mengonsumsi buah-buahan seperti alpukat ataupun sayur-sayuran hijau seperti bayam dan kangkung.