Baik anak-anak maupun orang dewasa dapat menderita penyakit ITP. Biasanya penderita penyakit ini mengeluhkan luka berdarah mereka yang sulit membeku. Mengapa demikian?

APA ITU “ITP”?
Idiopathic Thrombocytopenia Purpura (ITP) atau istilah lainnya Immune Thrombocytopenia Purpura merupakan sindrom klinik dimana terjadi penurunan jumlah trombosit di sirkulasi darah. ITP dapat dibagi menjadi dua yaitu ITP akut dan ITP kronis. ITP akut biasanya disertai dengan infeksi akut dan akan sembuh dalam waktu 2 bulan. Yang membedakan antara ITP akut dan ITP kronis adalah lama penyakitnya. ITP akut bila kejadiannya kurang dari atau sama dengan 6 bulan sedangkan ITP kronis jika lama penyakitnya lebih dari 6 bulan. ITP akut lebih sering dijumpai pada anak-anak dan jarang pada orang dewasa. Sebaliknya ITP kronis lebih sering diderita oleh orang dewasa.
Jumlah penderita pria dan wanita sebenarnya sama saja tidak jauh beda. Pada anak-anak, anak laki-laki lebih banyak menderita ITP dibanding dengan anak perempuan. Sementara pada orang dewasa, wanita lebih banyak menderita ITP daripada pria.
Insiden ITP akut pada anak mencakup 4 – 5,3 per 100.000 dalam setahun. Sekitar 7 – 28% anak-anak dengan ITP akut berkembang menjadi ITP kronik. Sedangkan ITP kronis anak kira-kira 0.46 per 100.000 per tahun. Sementara kasus ITP kronik dewasa sekitar 5,8-6,6 per 100.000 per tahun.

APA SAJA YANG MENJADI GEJALA DAN TANDA “ITP”?
Ada banyak sekali yang menjadi gejala dan tanda dari penyakit ITP, di antaranya:
-perdarahan gusi
-mudah memar
-perdarahan dari hidung
-purpura (perdarahan kecil di dalam kulit)
-petekia (bintik merah kecil)
-ekimosis (memar dibawah kulit. Perdarahan ekimosis lebih luas dibanding purpura dan petekia).
-perdarahan saluran pencernaan. Bisa didapati feses berdarah atau feses berwarna hitam.
-menometrorrhagia (perdarahan dari uterus yang berlebihan)
Akibat kurangnya jumlah trombosit darah tidak dapat dibekukan.

LALU, APA SAJA YANG MENJADI PENYEBAB “ITP”?
Terjadinya penyakit ITP dikarenakan adanya autoantibodi IgG pada permukaan trombosit. Antibodi-antibodi ini menyelimuti trombosit sehingga menyebabkan masa hidup trombosit lebih singkat di dalam sirkulasi darah.
Dalam hal ini limpa memiliki peran besar sebab limpa sendiri lah yang menghasilkan autoantibodi yang dimaksudkan di atas (di pulpa putih limpa). Dan di limpa juga tempat fagositosis trombosit yang telah terselimuti-autoantibodi (di pulpa merah limpa).
Ini sebabnya mengapa terjadi trombositopenia pada ITP padahal keadaan sumsum tulang normal. Trombositopenia pada ITP terjadi diakibatkan proses imun bukan karena adanya gangguan pada sumsum tulang (seperti anemia aplastik).

KALAU BEGITU TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK “ITP”?
Terapi utama yang dapat diberikan untuk pasien ITP adalah kortikosteroid dan imunoglobulin intravena (IVIg). Petunjuk penggunaan, dosis dan cara pemberian tergantung kondisi pasien, jumlah platelet, dan derajat atau tingkat gejala. Konsultasi dengan ahli hematologi merupakan tindakan awal yang seharusnya dilakukan.
Terapi lain yang bisa dilakukan adalah splenektomi (pengangkatan limpa). Terapi ini dilakukan setelah terapi steroid atau jika terapi steroid gagal.
Inti dari terapi ITP adalah menjaga kadar trombosit dalam kisaran yang aman agar terhindar dari perdarahan masif.
Bagi anak-anak yang menderita ITP akut, biasanya tidak perlu mendapatkan terapi. Karena mereka berpeluang dapat pulih secara spontan. Namun mereka harus diobservasi ketat. Tidak harus dirawat di rumah sakit asalkan dapat ditangani dan dirawat intensif. Perdarahan harus selalu diawasi, dan jangan sampai kecolongan HB turun anjlok akibat perdarahan masif yang tidak diketahui sumbernya.

Pasien ITP dewasa bisa lebih lama menderita ITP dibanding anak-anak. Terapi steroid yang bisa digunakan adalah prednison oral. Pengobatan ini bisa memakan waktu yang lama, bisa berminggu-minggu. Target pemberian prednison oral ini untuk mempertahankan atau meningkatkan kadar sel darah merah dalam tubuh. Diharapkan dengan terapi ini, penderita ITP tidak mengalami anemia. Akan tetapi, saat terapi prednison oral ini dihentikan, jumlah sel darah merah dalam tubuh bisa rendah kembali.

Selain bertujuan untuk meningkatkan kadar sel darah merah, terapi prednison oral ini juga bertujuan untuk menjaga trombosit dalam kisaran normal agar mencegah terjadinya perdarahan mayor atau masif.

Terapi awal prednisoon 0,5-1,2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu. Respon terapi prednison terjadi dalam 2 minggu dan pada umumnya terjadi dalam minggu pertama, bila respon baik dilanjutkan sampai 1 bulan, kemudian diturunkan dosisnya secara perlahan. Pasien ITP dewasa yang resisten harus diberikan dosis yang lebih tinggi. Boleh diberikan deksametason 40mg/hari. Terapi kortikosteroid lain seperti metilprednisolon dapat diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/hari. Biasanya metilprednisolon juga diberikan pada pasien ITP yang resisten.

Dibandingkan terapi kortikosteroid, terapi dengan IVIG jauh lebih cepat menaikkan trombosit dan dengan efek samping yang minimal. Cara kerjanya sama saja dengan kortikosteroid yaitu memblok sistem retikuloendotelial sehingga dapat meningkatkan kadar trombosit. Biasanya dalam 48 jam, trombosit akan meningkat. Itu sebabnya terapi IVIG lebih dipilih sebagai terapi untuk perdarahan yang masif. Namun harga IVIG saat ini masih mahal.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI PENYAKIT INI?
Yang menjadi komplikasi dari penyakit ITP ini antara lain:
-Perdarahan intrakranial (pada kepala). Ini penyebab utama kematian penderita ITP.
-Kehilangan darah yang luar biasa
-Efek samping dari kortikosteroid
-infeksi pneumococcal. Infeksi ini biasanya didapat setelah pasien mendapat terapi splenektomi. Si penderita juga umumnya akan mengalami demam sekitar 38.80C.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH “ITP”?
Karena penyebab langsung ITP masih belum dapat dipastikan maka pencegahan terhadap ITP pun masih belum jelas. Tetapi setidaknya ada cara atau gaya hidup yang bisa dilakukan oleh penderita ITP agar dapat hidup sebagaimana orang normal lainnya. Salah satunya menghindari kegiatan-kegiatan keras yang berisiko menyebabkan luka perdarahan. Supaya tidak memperburuk kondisi pasien ITP saja.

SUMBER REFERENSI:
-Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 659 – 664.
-Silverman, Michael A. MD. (January 2009). “Idiopathic Thrombocytopenic Purpura”. http://www.emedicine.com
-Sandler, S. Gerald. MD. FACP. FACP. (October 2009). “Immune Thrombocytopenic Purpura”. http://www.emedicine.com
-Bakta, I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006: 241 – 243.
-Setyoboedi, Bagus. Purpura Trombositopenik Idiopatika pada Anak. 2004.

Bagi orang normal luka berdarah bukanlah suatu masalah yang harus dipersoalkan. Namun bagi penderita hemofilia luka berdarah bisa jadi masalah yang besar. Mengapa demikian?

APA ITU HEMOFILIA?
Hemofilia merupakan gangguan perdarahan yang cukup jarang terjadi dimana darah anda tidak dapat membeku secara normal. Umumnya penderita Hemofilia menderita perdarahan lebih lama dibanding orang normal.

Hemofilia diturunkan dari orang tua ke anak secara resesif terpaut kromosom X. Ini artinya wanita dapat bersifat pembawa atau carrier.

Hemofilia kebanyakan terjadi pada pria walaupun sebenarnya cukup jarang terjadi. Hanya sekitar 1 dari 5000 anak laki-laki yang terlahir dengan hemofilia. Penyakit ini dapat diderita siapa saja dari setiap ras ataupun bangsa.

APA SAJA YANG MENJADI GEJALA DAN TANDA HEMOFILIA?
Tanda dan gejala yang paling sering dialami oleh penderita hemofilia antara lain:
-Perdarahan yang tidak segera berhenti baik itu perdarahan dari hidung, gusi atau perdarahan lainnya.
-ditemukannya banyak memar.
-nyeri sendi dan pembengkakan sendi.

HAL APA SAJA YANG MENJADI PENYEBAB HEMOFILIA?
Hemofilia terjadi dikarena kurangnya atau tidak adanya faktor VIII (untuk hemofilia A) atau faktor IX (untuk hemofilia B). Biasanya seseorang hanya akan kehilangan salah satunya saja tidak keduanya.

Penyakit ini diturunkan secara resesif terpaut kromosom X. Wanita memiliki 2 kromosom X, sedangkan pria memiliki satu kromosom X dan satu kromosom Y. Ini yang menyebabkan tidak ada istilah “carrier” atau pembawa pada pria.

Jika si ibu membawa gen hemofilia pada salah satu kromosom X-nya, setiap anak laki-lakinya memiliki peluang 50% untuk menderita hemofilia. Untungnya anak perempuan jarang menderita penyakit hemofilia ini. Kebanyakan anak perempuan hanya bersifat “carrier” atau pembawa. Anak perempuan harus mendapat kromosom X dari ayahnya yang hemofilia dan satu kromosom X lagi dari ibunya yang carrier supaya menderita hemofilia. Wanita lebih sering menjadi “carrier” atau pembawa daripada menderita hemofilia.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK HEMOFILIA?

Tujuan utama terapi adalah mencegah perdarahan pada pasien hemofilia! Ada banyak hal yang dapat dilakukan. Misalnya:
-Terapi Penggantian Faktor Pembekuan
Hal ini juga merupakan salah satu upaya untuk penatalaksanaan untuk penderita hemofilia. Tergantung tipe hemofilianya. Jika si penderita mengidap hemofilia A maka dia membutuhkan faktor VIII sedangkan untuk penyakit hemofilia B maka faktor pembekuan yang dibutuhkan adalah faktor IX. Faktor pembekuan ditransfusi pada pasien secara intravena.
-Kriopresipitat AHF
Kriopresipitat AHF merupakan salah satu komponen darah yang mengandung faktor VIII, fibrinogen dan faktor von Willebrand. Kriopresipitat ini dapat diberikan pada hemofilia A. Efek samping dari terapi ini adalah reaksi alergi dan demam.
-Antifibrinolitik
Terapi untuk penderita hemofilia B dapat diberikan antifibrinolitik. Terapi ini berfungsi untuk menstabilkan bekuan/fibrin.
-Desmopresin
Fungsi desmopresin ialah untuk meningkatkan aktivitas faktor VIII di dalam plasma. Desmopresin umumnya diberikan kepada pasien hemofilia A.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI HEMOFILIA?
Sebagian besar komplikasi yang terjadi diakibatkan oleh terapi.
Misalnya:
-Infeksi virus HIV atau virus-virus lainnya saat transfusi karena memakai jarum suntik bekas.
-reaksi alergi yang merupakan efek dari penggunaan kriopresipitat, fresh-frozen plasma (FFP), dan faktor konsentrat.
-dapat terjadi thrombosis (pembekuan darah yang berlebih) yang juga merupakan dampak dari terapi.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH HEMOFILIA?
Karena penyakit hemofilia merupakan penyakit keturunan maka penyakit ini tidak bisa dicegah.

Atau paling tidak bagi pasangan yang ingin memiliki anak tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan praktisi kesehatan yang ahli di bidang penyakit keturunan (Medical geneticist).

Bagi anda yang menderita hemofilia, sebisa mungkin hindari aktivitas yang dapat menyebabkan stres atau tekanan pada sendi. Ada baiknya juga jika anda berolahraga secara teratur tiap harinya, namun jangan lupa tanyakan dokter anda latihan fisik atau olahraga apa saja yang aman bagi anda.

SUMBER REFERENSI:
-Agaliotis, Dimitrios P. MD. PhD. FACP. (November 2009). “Hemophilia”. http://www.emedicine.com
-Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 759 – 762.

sebelumnya salam kenal,,
saya ingin konsultasi tenntang tinggi badan sya, umur saya sdah menginjak 17 thn, brat 46kg. nmun tinggi badan saya cman 155cm, apkah itu ideal? dari kecil saya sdah dipupuk mkanan 4 sht 5 smpurna, tpi saat mengijak masa SD sya terkadang memaksakan diri menggangkat benda berat dan terkdang begadang, tapi sekrang tidak, pertanyaannya; apakah pola hidup dulu berpengaruh pda msa pertumbuhan skarang? dan apa solusinya?
skian trimakasih sya tunggu jawabannya,,

(TS, Laki-laki, 17 tahun, 48 kg, 155 cm)

Jawab:

Selamat sore TS.
Untuk orang dewasa seumuran kamu memang tinggi badan kamu tergolong masih kurang ideal. Gaya hidup dan gizi semasa kecil merupakan faktor yang cukup mempengaruhi disamping faktor genetik.

Saat ini kamu berumur 17 tahun, dan untuk umur tersebut pertambahan tinggi badan masih memungkinkan. Jadi cobalah terus berusaha. Sebab penutupan lempeng epifisis pada pria biasanya terjadi saat berumur 18 hingga 25 tahun. Rata-rata pada umur 21 tahun. Apabila lempeng ini sudah menutup maka pertambahan tinggi badan tidak akan terjadi lagi.

Cobalah untuk rajin berolahraga. Pilihlah olahraga renang dan jogging. Gizi yang baik serta istirahat yang cukup juga punya peran yang banyak dalam menambah tinggi badan. Dan jangan lupa untuk selalu minum susu kaya kalsium dan zinc

Apakah ada pengaruh kalsium dan zinc dengan tinggi badan?

Zinc berperan dalam pembentukan kolagen, dimana jaringan kolagen ini berfungsi sebagai peletakan kalsium fosfat untuk membentuk tulang. Jadi apabila jaringan kolagen kurang, maka asupan kalsium kamu yang banyak tentu sia-sia. Selain itu zinc juga berperan dalam pembentukan hormon testosteron untuk kekuatan otot dan pertumbuhan tulang.

Sekitar 99% kalsium disimpan di dalam tulang. Sesungguhnya setiap hari tulang itu “dibongkar pasang”. Ada kalsium yang dilepas dan harus ada kalsium yang masuk untuk disimpan di dalamnya. Untuk itu asupan kalsium pun harus cukup.

Berapa kebutuhan kalsium dan zinc per hari?
Untuk orang dewasa umur 17 tahun kebutuhan kalsiumnya sekitar 1300 mg dan zinc 11 mg per hari. Dengan mengonsumsi susu, daging merah dan sayur-sayuran seperti kol, bayam, brokoli serta sayuran hijau lainnya kebutuhan kalsium dan zinc tentu akan tercukupi.

Terima kasih
Semoga bermanfaat.

Siapa yang tidak mau memiliki anak yang sehat? Apalagi bisa hidup normal dan bebas dari penyakit-penyakit bahaya. Termasuk penyakit Leukemia Limfoblastik Akut!

Sudah banyak bukti menyebutkan bahwa kasus ini lebih banyak menyerang anak-anak. Bagaimana jadinya kalau banyak generasi muda kita yang menderita penyakit ini?

APA ITU LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT?
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) atau Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) merupakan keganasan klonal dari sel-sel prekursor limfoid. Penyakit ini kebanyakan diderita oleh anak-anak bahkan mencakup sekitar 80% dari seluruh kasus LLA.

Kasus LLA terjadi sekitar 9-10 dari 100.000 penduduk. Dan seperti yang tertulis di atas, kebanyakan penderitanya adalah anak-anak yang berumur 2 – 5 tahun. Menurut jurnal “Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) ” (oleh Noriko Satake), penyakit ini dapat terjadi pada anak-anak dengan berbagai penyakit imunodefisiensi kongenital yang pada akhirnya menyebabkan keganasan limfoid. Namun, hal ini tidak perlu dikhawatirkan, sebab cukup dengan diagnosis dan terapi yang tepat, penyakit ini dapat disembuhkan. Sekitar 80% kasus LLA pada anak-anak dinyatakan sembuh!

Namun sebaliknya, orang dewasa penderita LLA hanya memiliki peluang yang kecil (5%) untuk dapat sembuh.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA PENYAKIT “LLA”?
Gejala dan tanda yang dialami penderita LLA umumnya bervariasi. Namun secara umum gejala klinik yang sering dialami penderita penyakit ini antara lain:
-anemia
-anorexia (hilang selera makan)
-nyeri tulang dan sendi
-demam dan berkeringat banyak
-perdarahan kulit, gusi, otak, hematuria (adanya darah dalam urin).
-pembesaran hati
-pembesaran limpa
-limfadenopati (penyakit kelenjar limpa)

APA SAJA PENYEBAB DARI PENYAKIT INI?
Diduga salah satu faktor penyebab penyakit LLA ini adalah paparan radiasi. Sebagian dari penduduk Jepang yang selamat dari tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki menderita penyakit ini.

Selain itu para ilmuwan juga menduga sebagian kecil dari kasus penyakit ini memiliki kaitan dengan sindrom genetik yang diwariskan dari orang tua ke anak. Sindrom genetik yang dimaksud seperti sindrom Down, sindrom Bloom dan anemia Fanconi.

Sementara faktor penyebab lainnya masih belum dapat dijelaskan secara pasti.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK PENYAKIT “LLA”?
Penderita LLA dapat diterapi dengan kemoterapi. Pada kasus ini kemoterapi dibagi menjadi dua tahap pengobatan, yaitu tahap induksi remisi dan post remisi. Tahap induksi remisi merupakan tahap untuk mencapai kondisi remisi dari si penderita sedangkan tahap post remisi merupakan tahap sesudahnya yang gunanya untuk mempertahankan kondisi remisi.

Kemoterapi yang digunakan dalam tahap induksi remisi antara lain vincristine, prednison, L Asparaginase, dan Daunorubicin. Kombinasi dari semuanya itu tergantung pada kondisi penyakit si penderita sendiri. Sedangkan dalam tahap post remisi digunakan mercaptopurine dan Methotrexate.

Terapi yang lain untuk LLA adalah transplantasi. Penderita LLA yang berumur dibawah 45 tahun boleh mendapat terapi ini. Namun, tranplantasi ini hanya bisa “dianjurkan” bagi mereka yang memiliki donor dari saudara mereka.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI “LLA”?
Komplikasi dari penyakit ini cukup banyak, diantaranya:
-tumor lysis sindrome
-gagal ginjal
-sepsis (adanya mikroorganisme dalam darah atau jaringan lain)
-perdarahan
-trombosis
-typhilitis
-neurophaty (gangguan fungsional pada sistem saraf tepi)
-encephalophaty (penyakit degeneratif pada otak)
-seizure (kejang)
-keganasan sekunder
-short stature
-kekurangan hormon pertumbuhan

Kematian juga dapat terjadi. Biasanya akibat dari infeksi yang tak terkontrol lagi ataupun perdarahan yang luar biasa. Bahkan bisa juga terjadi sekalipun telah diterapi dengan produk darah yang benar dan kemoterapi yang tepat.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH “LLA”?

Karena penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti maka tidak ada pencegahan yang jelas terhadap penyakit ini.

Paling tidak faktor risiko LLA seperti paparan radiasi dapat dihindari.

SUMBER REFERENSI:
? Bakta, I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006: 123 – 133.
?Satake, Noriko. MD. (April 6, 2010) “Acute Lymphoblastic Leukemia”. http://emedicine.com
?Seiter, Karen. MD. (March 10, 2010). “Acute Lymphoblastic Leukemia”. http://emedicine.com

Dikatakan bahwa 1 dari 9 perokok berat berpeluang menderita kanker paru. Anak-anak yang terpapar asap rokok selama 25 tahun pada usia dewasa akan terkena risiko kanker paru. Perempuan yang hidup dengan suami atau pasangan yang perokok memiliki peluang 2-3 kali lipat menderita kanker paru.

Lalu, apa kaitan sebenarnya antara rokok dan kanker paru? Kalau memang rokok dapat menyebabkan kanker paru, mengapa bisa terjadi demikian? Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu terjawab anda perlu tahu dulu apa itu kanker paru!

APA ITU KANKER PARU SEBENARNYA?
Insiden kanker paru cukup tinggi. Di Indonesia sendiri kanker paru berada di posisi nomor 4 kanker terbanyak. Dan kebanyakan dari pasien kanker paru (65%) adalah pria.

Kanker paru adalah penyakit yang ditandai adanya jaringan yang tumbuh (tumor) tak terkontrol pada paru-paru.

Tumor paru dibagi atas dua yaitu Small cell lung cancer (SCLC) dan Non-Small lung cancer (NSCLC). NSCLC mencakup sekitar 85% dari seluruh kasus kanker paru. Dan NSCLC dibagi lagi menjadi adenokarsinoma, karsinoma sel skuamus, dan karsinoma sel besar. Sementara jenis kanker SCLC merupakan tipe yang lebih sedikit dari kasus kanker paru. SCLC ini disebut juga dengan istilah “oat cell carcinoma” karena mirip bentuk biji gandum.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA PENYAKIT KANKER PARU-PARU?
Yang menjadi tanda dan gejala kanker paru antara lain:
-batuk darah
-berat badan menurun, lemah, dan kurang nafsu makan
-sulit menelan
-nafas pendek
-suara terdengar agak parau
-sakit di bagian dada

Terkadang penderita kanker paru sulit bernafas jika kanker-nya tumbuh pada saluran pernafasan.

APA YANG MENYEBABKAN PENYAKIT INI TERJADI?
Diduga penyebab utama dari 87% kasus kanker paru adalah merokok. Dalam rokok terkandung karsinogen (semacam pemicu kanker). Nah, karsinogen pun mengandung banyak zat-zat seperti nitrosamine, benzopyrene, dan vinyl chloride.

Penyebab lain yang cukup berperan pada banyak kasus adalah gas radon. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk dari pemecahan radioaktif radium. Diduga gas radon ini menjadi penyebab nomor dua kanker paru.

Penyebab kanker paru lainnya antara lain asbestos dan virus. Virus-virus yang dimaksud misalnya papilloma virus, JC Virus, Simian Virus, BK Virus, dan cytomegalovirus.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK KANKER PARU-PARU?

Tiga terapi yang paling umum dilakukan pada kanker paru adalah pembedahan, kemoterapi dan terapi radiasi. Terapi yang diberikan tergantung pada kondisi pasien atau stadium kanker yang diderita. Misalnya NSCLC. Tipe ini memiliki 4 stadium mulai dari stadium I sampai stadium IV.

-Pembedahan
Terapi pembedahan sangat umum dilakukan pada pasien kanker paru stadium penyakit I dan II NSCLC. Sedangkan pada stadium III terapi ini masih kontroversial.. Walaupun sebenarnya ada beberapa pasien tertentu dari stadium III yang mendapat pembedahan. Selain itu ada referensi yang menyebutkan pembedahan bisa dilakukan pada stadium IIIA. Tipe pembedahan meliputi “wedge resection” (pengambilan sebagian dari satu lobus), lobectomy (satu lobus), bilobectomy (dua lobus), dan pneumonectomy (seluruh paru-paru).

-Terapi radiasi
Jika pasien stadium I dan II NSCLC gagal mendapat efek dari terapi pembedahan, maka terapi radiasi biasanya akan diberikan. Dalam hal ini terapi radiasi dilakukan pada kasus yang “inoperable” (terapi pembedahan gagal memberi efek terapi). Secara umum terapi radiasi diberikan pada pasien stadium III dan IV NSCLC.

-Kemoterapi
Kemoterapi digunakan sebagai terapi dasar untuk pasien mulai dari stadium IIIA. Pada pasien NSCLC, kemoterapi yang sering digunakan adalah cisplatin dan carboplatin yang dikombinasikan dengan gemcitabine, paclitaxek, docetaxel, etoposide atau vinorebine. Sedangkan pada penderita SCLC, biasanya diberkan cisplatin dan carboplatin. Dan terkadang dikombinasikan dengan carboplatin, gemcitabine, paclitaxel, vinorelbine, topotecan dan irinotecan.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI KANKER PARU-PARU?
Komplikasi yang umum terjadi pada kanker paru antara lain:
-hiperkalsemia (tingginya kadar kalsium).
-terjadi perdarahan setelah dilakukan biopsi
-kadang terjadi penekanan pada korda spinalis. Jika terjadi hal ini, maka segera berikan kortikosteroid.

Selain itu semua, komplikasi lain yang terjadi bisa akibat dari kemoterapi. Misalnya
-neutropenia (kekurangan neutrofil)
-gagal ginjal akibat dampak dari cisplatin
-kekurangan magnesium. Juga akibat dari cisplatin.

Kematian pun tidak jarang bisa terjadi sesudah terapi pembedahan.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH KANKER PARU-PARU?
Karena merokok merupakan penyebab utama kanker paru maka pencegahan utama yang dapat dilakukan adalah tidak merokok! Kalau bisa jangan pernah merokok!

Bagi anda yang mungkin sudah terlanjur merokok ataupun perokok aktif, ada baiknya anda segera menghentikan kebiasaan anda itu.

Peran pemerintah juga sangat dibutuhkan disini. Misalnya tentang edukasi publik mengenai bahaya merokok, membuat larangan merokok pada area-area tertentu, dan meningkatkan pajak tembakau.

SUMBER REFERENSI:
-Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 1005 – 1010.
-Huq, Syed. MD. (February 2010). “Lung Cancer: Non-Small Cell”. http://www.emedicine.com
-Sarma, Sat. MD. FRCPC (May 2009). “Lung Cancer: Non-Small Cell”. http://www.emedicine.com