Disleksia hampir tidak memiliki gejala. Siapa yang sadar kalau anak anda kesulitan menulis dan membaca? Mereka sulit membedakan huruf atau angka. Membaca pun kadang harus terbata-bata.

Di dalam kelas, mereka sering tertinggal pelajaran, terlambat menulis catatan dari papan tulis dan nilai yang mereka dapatkan pun tentunya jarang ada yang bagus. Belum lagi tanggapan-tanggapan teman-temannya yang sadar kalau dia seperti “anak bodoh.”

Nah, sebenarnya mereka tidak lah bodoh! Mengapa? Sebelum pertanyaan ini terjawab, anda harus tahu dahulu apa itu disleksia!

APA ITU DISLEKSIA?
Disleksia berasal dari kata Yunani, yakni kata “dys” yang berarti kesulitan dan kata “lexis” yang berarti bahasa. Secara harafiah, disleksia berarti “kesulitan dalam berbahasa”.

Disleksia (dyslexia) merupakan kesulitan belajar spesifik yang berkaitan dengan membaca, mengeja dan menulis. Kelainan ini hanya terbatas pada ketiga hal tersebut saja, dan tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar seperti kecerdasan, kemampuan analisis, dan juga daya sensorik pada indera perasa. Disleksia sebenarnya masih kurang tepat jika disebut penyakit. Beberapa ahli menyebutkan disleksia ini hanyalah semacam gangguan belajar atau masalah dalam kesulitan belajar saja. Si penyandang disleksia mungkin sulit membedakan “b” dan “d” atau huruf “p” dan “q” Dan disleksia ini merupakan bawaan lahir atau factor genetis. Gangguan ini tidak dapat disembuhkan sehingga penyandang disleksia harus membawa gangguan ini seumur hidupnya.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA DISLEKSIA?
Sebenarnya tidak semua penderita disleksia menunjukkan gejala. Secara fisik penderita disleksia tidak menunjukkan tanda bahwa dia adalah seorang penderita penyakit ini.

Anak disleksia sering tidak dapat membedakan huruf dan angka. Misalnya huruf b, d, s, z, p, dan a. Dan juga mereka sering terbalik menuliskan angka “6”, “7” dan “9”.

Walau tidak kelihatan secara fisik, anak disleksia bisa diketahui oleh teman-temannya sendiri di kelas. Secara otomatis, teman-temannya menyadari bahwa dia berbeda. Selalu kesulitan membaca ketika disuruh membaca, terlambat menulis tulisan guru di papan tulis dan banyak lagi ciri yang lain.

Intinya, anak disleksia sulit untuk belajar, baik itu menulis atau pun membaca. Namun, jika potensi disleksia diketahui sejak dini ataupun masalah belajarnya terus dilatih, maka tidak tertutup kemungkinan gangguan disleksia ini mampu diatasi. Walaupun masalah disleksia bisa diatasi namun tetap saja tidak ada bukti yang signifikan untuk membuktikan bahwa seseorang telah sembuh dari disleksia.

Anak disleksia pun sebenarnya tidaklah bodoh. Lihat saja Albert Einstein! Orang jenius seperti Albert Einstein juga salah satu penderita disleksia!

APA SAJA PENYEBAB DARI PENYAKIT INI?
Siapa saja bisa terkena penyakit ini. tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan. Lalu apa yang menyebabkan penyakit ini terjadi?

Salah satu faktor risikonya adalah riwayat keluarga. Jika salah satu orang tuanya penderita disleksia, anak-anaknya memiliki peluang sekitar 23-65% menderita disleksia juga. Menurut penelitian John Bradford (1999) di Amerika, telah didapati bahwa bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami “learning disabilities” (termasuk salah satunya disleksia), dan 60% di antaranya punya anggota keluarga yang kidal.

Selain faktor keturunan, faktor penyebab lain yang masih diperdebatkan adalah faktor gangguan pendengaran. Sebagian ahli berpendapat gangguan pendengaran sama sekali tidak memiliki peranan penting dalam menyebabkan disleksia, namun pendapat lain mengatakan kelainan pendengaran sejak kecil bisa mengakibatkan disleksia akibat ketidakcocokan ataupun kekacauan antara “apa yang didengar” dengan “apa yang dibaca”.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK PENYAKIT DISLEKSIA?
Sebenarnya disleksia merupakan penyakit menetap yang artinya tetap ada pada suatu individu yang telah menjadi penderita. Sebagian referensi lain menyebutkan disleksia ini termasuk gangguan atau masalah kronis. Jadi sangat kecil kemungkinannya ada kesembuhan. Namun ada beberapa penderita disleksia terlihat seolah-olah sembuh di masa dewasanya. Dalam hal ini sebenarnya penyakitnya tidak lah sembuh. Gejala disleksia yang dialami si penderita bisa saja berangsur menghilang saat dewasa jika si penderita mampu mengatasi kesulitan yang diakibatkan penyakitnya itu.

Nah, untuk itu yang bisa dilakukan pada anak disleksia adalah membawanya berkonsultasi pada tenaga medis yang ahli dalam bidang tersebut.

Hal lainnya adalah melatih anak disleksia untuk mengatasi masalah belajarnya itu. Misalnya sering-sering menulis dan membaca. Dari jurnal “Learning Disorder, Writing Expression” http://www.emedicine.com/, ada teknologi terbaru untuk melatih anak-anak ini dalam menulis. Dimana cara ini membutuhkan computer juga. Dimana komputer akan segera menyuarakan apa yang telah diketik si anak. Ini akan membantu anak disleksia untuk belajar membedakan tulisan yang benar dan salah.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI DISLEKSIA?
Sebenarnya komplikasi dari disleksia sendiri pun belum jelas. Belum ada referensi yang menjelaskan tentang komplikasi disleksia ini secara jelas.
Yang jelas gangguan belajar disleksia jika tidak dilatih atau dikontrol dengan baik bisa mempengaruhi masa depannya nanti. Maka, ada baiknya masalah disleksia ini dideteksi dan dilatih sejak dini supaya masa pendidikannya pun tetap terjamin.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH DISLEKSIA?
Tidak ada pencegahan yang spesifik yang bisa dilakukan. Paling tidak ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh anak disleksia. Misalnya:
-duduk di bangku depan saat dalam kelas
-membuat waktu belajar khusus untuk latihan disleksia-nya. Misalnya dengan banyak membaca. Tidak harus buku pelajaran. Begitu juga dengan melatih membaca angka dengan melihat jam (bila perlu beri dia jam tangan).

Orang dewasa juga berperan dalam perkembangan anak disleksia. Jangan selalu menekan mereka. Mereka ini juga sudah cukup sulit sebenarnya menderita penyakit ini. Tidak jarang mereka membandingkan diri dengan teman-temannya yang lain yang normal. Sangat lah dianjurkan jika orang dewasa tetap mau mendukung dan memotivasi anak-anak disleksia!

SUMBER REFERENSI:
-http://children.webmd.com/tc/dyslexia-overview
-http://children.webmd.com/understanding-dyslexia-basics
-ernstein, Bettina E. DO. (December 3, 2008) “Learning Disorder, Written Expression”. http://www.emedicine.com/

Sistosomiasis merupakan salah satu penyakit yang ditakuti sebab telah merenggut banyak nyawa. Bahkan di Indonesia sendiri sering terjadi wabah sistosomiasis di beberapa daerah. Tidak jarang juga penyakit ini diperantarai oleh hewan jenis keong. Jumlah yang tewas juga tidak terbilang sedikit. Sebenarnya apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

APA ITU SISTOSOMIASIS?
Sistosomiasis (schistosomiasis) merupakan penyakit infeksi nomor dua setelah malaria. Nama lain penyakit ini adalah Biliharzia yang diambil dari nama ahli patologi Theodore Maximillian Biliharz (1825 – 1862). Penyakit ini adalah penyakit parasit (cacing) yang hidup dalam pembuluh darah vena.

Ada 5 spesies sistosoma, diantaranya sistosoma mansoni, sistosoma hematobium, sistosoma japonicum, sistosoma mekongi, dan sistosoma intercalatum. Di Indonesia, spesies sistosoma yang ditemukan adalah sistosoma japonicum.

Siapa saja bisa terkena penyakit ini baik pria maupun wanita. Begitu juga dengan umur. Baik anak-anak maupun orang dewasa memiliki peluang yang sama terpapar penyakit sistosomiasis.

Sistosomiasis ini merupakan salah satu penyebab utama kematian di Afrika, Amerika Selatan, Timor Tengah dan Asia.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA SISTOSOMIASIS
Gejala yang paling sering dialami penderita sistosomiasis adalah demam, urtikaria (semacam reaksi alergi yang menimbulkan bilur-bilur warna kemerahan), mual, muntah dan sakit perut. Kadang-kadang dijumpai sindrom disentri.

Gejala-gejala lain yang juga dapat ditemukan antara lain:
-hepatosplenomegali (pembesaran limpa dan hati)
-hematuria (adanya darah pada urin)
-sindrom myelitislike
-gangguan saluran genital wanita
-purpura (perdarahan kecil dalam kulit)

Satu hal lain yang perlu diketahui adalah gejala sistosomiasis setiap spesiesnya berbeda-beda.

APA SAJA PENYEBAB DARI PENYAKIT SISTOSOMIASIS?
Penyebabnya sudah jelas. Dan juga sudah dipaparkan di atas. Penyebabnya adalah trematoda sistosoma. Di daerah Indonesia sendiri, penyebab utama sistosomiasis adalah spesies S.japonicum.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK PENYAKIT SISTOSOMIASIS?
Salah satu terapi yang cocok untuk sistosomiasis adalah praziquantel. Obat ini mampu mengobati sistosomiasis akibat spesies S.hematobium, S.mansoni, dan S.japonicum.

Obat lainnya yang juga cukup sering digunakan adalah Oxamniquine, Artemisin, dan Metrifonate. Namun obat-obat ini jarang dipakai untuk sistosomiasis akibat spesies S.japonicum.

Terapi pembedahan juga kadang bisa dijadikan pilihan untuk mengeluarkan polip atau sumbatan saluran kemih.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI SISTOSOMIASIS?
Komplikasi yang sering terjadi dari penyakit ini antara lain:
-splenomegali (pembesaran limpa)
-malnutrisi (gizi buruk)
-varises esofagii (pembesaran pembuluh vena di esofagus)
-hipertensi portal (peningkatan tekanan aliran darah portal diatas 10-12 mmHg)
-hipertensi pulmonal.
-gangguan fungsi hati
-gangguan usus besar
-gagal ginjal kronik
-kankre buli-buli, mielitis tranversa, epilepsi atau neuritis optika akibat dari penimbunan telur-telur sistoma.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH SISTOSOMIASIS
Untuk mencegah penyakit ini tidaklah sulit. Hanya butuh niat untuk melakukannya saja. Misalnya, tidak berenang di air tawar dimana sering terjadi sistosomiasis.

Lalu usaha lain adalah meminum air yang bersih yang terbebas dari parasit. Biasakan minum air yang sudah dimasak dengan baik.

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran ada baiknya untuk mewaspadai diri dari keong-keong yang kemungkinan merupakan perantara penyakit ini. Bahkan lebih baik jika keong-keong air dimana sering terjadi sistosomiasis segera diberantas.

SUMBER REFERENSI:
-Kogulan, Palaniandy. MBBS. MD. (February 26, 2010). “Schistosomiasis”. http://www.emedicine.com
-Dhawan, Vinod K. MD. FACP. FRCP(C). (May 15, 2008). “Schistosomiasis”. http://www.emedicine.com
– Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 1844 – 1848.

Selamat pagi
Terimakasih atas balasannya dok, setelah di periksa lagi ke dr spsialis dalam dan disarankan test mantoux dan lab. Ternyata saya positif tb dok 🙁 kira kira berapa lama yah sembuhnya ?

Jawab:
Selamat pagi apakah anda disarankan tes sputum (dahak)?
Sebenarnya tes paling reliable adalah tes dahak.

Tes mantoux memang baik. Tapi ini hanyalah untuk melihat apakah ada bakteri Tb yang laten dalam tubuh kamu.

Seseorang penderita tb membutuhkan pengobatan yang sangat lama. Pasien Tb yang baru terdiagnosis pertama kali butuh 6 bulan. Pasien tb yang kambuh atau tidak patuh obat membutuhkan waktu lbih lama. Bisa sampai 9 atau 12 bulan.
Pasien yang sudah kebal dengan beberapa obat anti tb, membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Terima kasih

Hodgkin merupakan salah satu jenis keganasan yang dapat disembuhkan dengan radiasi atau kemoterapi. Sampai saat ini sudah banyak penderita Hodgkin baik itu anak-anak maupun dewasa yang sembuh setelah diterapi. Namun banyak komplikasi dari Hodgkin ini diakibatkan oleh terapi sendiri. Mengapa demikian?

Sebelum pertanyaan ini terjawab Anda harus tahu dahulu apa itu penyakit Hodgkin sebenarnya!

APA ITU PENYAKIT HODGKIN?
Hodgkin merupakan salah satu tipe penyakit limfoma (tipe yang lain adalah Non-Hodgkin). Nama penyakit ini diberikan setelah Thomas Hodgkin berhasil mendeskripsikan abnormalitas pada sistem lymph pada tahun 1832. Penyakit Hodgkin dan Non-Hodgkin sebenarnya hampir sama, yang membedakan hanyalah sel Reed-Sternberg (R-S). Pada penyakit Hodgkin ditemukan sel Reed-Sternberg (R-S) ini sedangkan pada penyakit Non-Hodgkin tidak ada. Namun kasus penyakit Non-Hodgkin lebih sering ditemukan disbanding dengan kasus penyakit Hodgkin.

Menurut konferensi Rye di New York tahun 1966, hodgkin dibagi atas empat tipe, yaitu:
-tipe Lymphocyte Predominance: hanya ada sedikit Sel R-S. Tipe ini hanya sekitar 5% dari keseluruhan kasus Hodgkin.
-tipe Mixed Cellularity: Kasus ini mencakup 30% dari kasus Hodgkin. Jumlah sel R-S sudah sama banyaknya dengan sel limfosit.
-tipe Lymphocyte Depleted: Pada tipe ini jumlah sel R-S lebih banyak dibanding sel limfosit dan kasus ini hanya kurang dari 5% dari kasus hodgkin.
-tipe Nodular Sclerosis: tipe ini sering dijumpai, kira-kira 40-69% dari seluruh kasus Hodgkin. Sel R-S sudah sangat banyak.

Penyakit hodgkin memiliki 4 stadium. Dalam menentukan stadiumnya perlu diperhatikan lokasi pembengkakan kelenjar getah beningnya.
Stadium I: terlibatnya satu area kelenjar getah bening atau keterlibatan 1 organ ekstralimfatik (diluar limpa).
Stadium II: terlibatnya lebih dari dua area kelenjar getah bening atau keterlibatan 1 organ ekstralimfatik (diluar limpa).
Stadium III: terlibatnya area kelenjar getah bening pada kedua sisi diafragma.
Stadium IIIa: dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar getah bening splenik, hilar, seliak atau portal.
Stadium IIIb: dengan keterlibatan kelenjar getah bening paraaorta, iliaka dan mesentrika.
Stadium IV: Keterlibatan difus/diseminata pada 1 atau lebih organ ekstranodal atau jaringan dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar getah bening.

Pria lebih banyak menderita penyakit ini dibanding wanita. Perbandingannya kira-kira 1,3-1,4 berbanding 1. Dan biasanya penderita Hodgkin ini berumur 15-34 tahun atau lebih dari 55 tahun.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA PENYAKIT HODGKIN?

Tanda dan gejala yang sering dialami oleh penderita penyakit Hodgkin adalah gejala B (symptoms B) antara lain demam (380C atau lebih), berkeringan di malam hari, dan berat badan menurun setelah beberapa bulan. Gejala lainnya yang juga tidak jarang terjadi diantaranya membengkaknya kelenjar getah bening yang tidak nyeri, batuk, nafas pendek, gatal-gatal, dan pembesaran hati dan limpa.

Gejala yang paling sering disadari oleh si penderita adalah pembengkakan kelenjar getah bening yang ada dileher dan di dekat ketiak.

APA YANG MENYEBABKAN PENYAKIT INI TERJADI?
Penyebab penyakit Hodgkin masih belum dapat dipastikan. Namun ada beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan penyakit ini. Berikut ini adalah hal-hal yang memiliki kaitan dengan penyakit Hodgkin.
?Adanya kemungkinan penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr. Sebab beberapa dari penderita Hodgkin diketahui telah terinfeksi virus ini.
?Orang-orang yang telah terinfeksi HIV, biasanya cenderung lebih mudah menderita penyakit Hodgkin.
?Orang-orang yang menerima terapi obat imunosupresan setelah transplantasi orang juga berpeluang menderita penyakit ini.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK PENYAKIT HODGKIN?
Terapi dilakukan berdasarkan derajat penyakit dan histopatologiknya. Terapi yang biasa dilakukan adalah radioterapi atau kemoterapi.

-Radioterapi
Pasien Hodgkin derajat I dan II dapat menjalani radioterapi ini tanpa harus dikombinasi dengan terapi lain. Dosis yang diberikan umumnya 4000 rads.
Untuk derajat I, yang menjadi radiation port-nya antara lain leher, supraclavicular, ketiak, dan upper mediastinal nodes. Radiation port¬ untuk Hodgkin derajat II (diafragma atas) meliputi, leher, supraclavicular, aksila, dan mediastinal nodes, high periaortic nodes, dan splenic pedicle nodes. Sedangkan untuk Hodgkin derajat II (diafragma bawah) melalui inverted Y port yang meliputi inguinal, iliac, periaortic dan splenic pedicle nodes.
Khusus untuk Hodgkin derajat III dibedakan. Derajat IIIa diterapi dengan radioterapi sedangkan derajat IIIb diterapi dengan kemoterapi. (Di sumber lain disebutkan bahwa terapi Hodgkin derajat III tidak dibedakan melainkan diterapi dengan terapi yang sama yaitu kemoterapi).

-Kemoterapi
Kemoterapi kombinasi dapat menjadi pilihan kuratif pada banyak pasien Hodgkin. Dan umumnya sangat baik diberikan pada Hodgkin derajat IIIb dan IV.
Kemoterapi multiagen yang biasanya menjadi pilihan adalah MOPP yang diantaranya: Mustargen, Oncovin, Procarbazine, dan Prednison.
Keempat regimen di atas digolongkan dalam program MOPP. Dan sampai saat ini program ini masih dipakai untuk penanganan Hodgkin dengan derajat penyakit yang berat.

Pengobatan alternatif lain adalah regimen ABVD (Adriamycin, Bleomycin, Vincristine, dan Dacarbazine) atau BCVPP (Bischorethylnitrosourea, Cyclophosphamide, Vinblastine, Prednison, dan Procarabine). Kedua pengobatan alternatif tersebut memiliki efikasi yang sama dengan MOPP. Bedanya MOPP memiliki toksisitas jangka panjang yang lebih tinggi dibanding ABVD dan BVCVPP.

-Stem Cell Transplantation
Stem cell transplantation atau transplantasi sel induk merupakan prosedur bedah dengan mengganti sel-sel tubuh yang rusak pada pasien dengan menyuntikkan sel yang telah dikemas kepada tubuh pasien. Sel-sel induk penderita terlebih dahulu akan diambil untuk dibekukan dan disimpan.

Kesimpulannya pengobatan untuk Hodgkin ini bisa dengan kemoterapi, radioterapi atau bisa juga transplantasi sel induk, tetapi harus dengan pertimbangan umur penderita, jenis kelamin dan tingkat keparahan atau stadium Hodgkin yang diderita.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI HODGKIN?
Sebagian besar komplikasi dari penyakit Hodgkin dikarenakan terapi yang diberikan pada pasien. Diantaranya:
-hipotiroid. Komplikasi ini terjadi setelah dada dan leher diradiasi. Sekitar 50% penderita Hodgkin mendapat komplikasi ini.
-komplikasi jantung dan paru-paru. Tergantung seberapa banyak dosis kumulatif dari antrasiklin (berdampak pada jantung), bleomycin (berdampak pada paru-paru), dan dosis radiasi yang diberikan pada radioterapi.
-wanita dan khususnya pria lebih berpeluang besar menjadi infertil jika mendapat regimen dengan dosis alkylator yang tinggi.
-Sekitar 30% pasien yang sembuh dari penyakit Hodgkin ini mendapat malignansi sekunder setelah 30 tahun kemudian. Malignansi sekunder yang biasa didapat antara lain kanker tiroid, kanker kulit, dan kanker payudara.
-20 tahun sesudah didiagnosis menderita hodgkin, banyak penderita penyakit ini meninggal akibat terapi dibanding penyakit Hodgkin sendiri.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH HODGKIN
Pencegahan yang bisa dilakukan untuk penyakit Hodgkin pun sebenarnya masih belum jelas sebab penyebabnya belum dapat dipastikan. Namun ada beberapa hal yang bisa dijadikan pencegahan bagi penderita Hodgkin agar tidak mendapat komplikasi.

Pencegahan yang dimaksud antara lain:
-sebisa mungkin mengonsumsi obat-obat sesuai dengan resep dokter saja untuk menghindari dosis berlebih dari obat-obat seperti antrasiklin ataupun bleomycin.
-bagi pasien pria tidak ada salahnya untuk menyimpan spermanya di bank sperma untuk menghindari adanya kemungkinan menjadi infertil setelah diterapi dengan obat-obat yang mengandung agen alkylator.

SUMBER REFERENSI:
-Bakta, I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006: 192 – 201.
-Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 725 – 727.
-Dessain, Scott K. MD. PhD. (December 2009). “Hodgkin Disease” in Hematology. Http://www.emedicine.com
-Alarcon, Pedro A. MD. (December 2008). “Hodgkin Disease” in Oncology. http://www.emedicine.com

Mungkin anda pernah mendengar kakek atau nenek anda atau juga orang tua anda menderita mieloma multipel. Umumnya mereka sering mengeluhkan punggung mereka yang terasa nyeri, badan mereka yang lemas atau keluhan sering mengalami perdarahan atau keluhan lain. Penyakit ini sering diderita oleh orang tua. Namun apakah anda tahu apa sebenarnya mieloma multipe itu?

APA ITU MIELOMA MULTIPEL SEBENARNYA?
Mieloma multipel (MM) merupakan gamopati monoklonal akibat keganasan sel plasma dalam sumsum tulang yang menghasilkan protein abnormal dalam plasma atau urin. Tumbuh tumor pada sumsum tulang yang menyebabkan banyak antibodi abnormal yang dihasilkan. Endapan pecahan antibodi biasanya akan menumpuk pada organ-organ (salah satu contohnya ginjal) membentuk amyloidosis. Sedangkan apabila endapan antibodi ini ditemukan pada air kemih biasa disebut protein Bence-Jones.

Sebagian besar penderita MM merupakan orang tua yang berumur sekitar 50 – 70 tahun (jarang dibawah 40 tahun) dengan insiden sekitar 3 dari 100.000 penduduk.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA PENYAKIT MIELOMA MULTIPEL?

Tanda dan gejala yang biasa ditemui pada penderita MM antara lain:
-nyeri tulang terutama didaerah punggung.
-anemia (kurang sel darah merah). Kurangnya sel darah merah menyebabkan lesu, lemah, pucat dan sesak napas.
-terkadang ditemukan perdarahan
-gagal ginjal
-gangguan penglihatan
-kesadaran menurun

Tidak sedikit juga penderitanya yang asimtomatik (tanpa gejala atau tanpa keluhan) yang dijumpai secara kebetulan saat pemeriksaan.

APA YANG MENYEBABKAN PENYAKIT INI TERJADI?
Ada banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan multipel mieloma. Misalnya
-pelepasan sel mieloma mengakibatkan penumpukan amiloid
-peningkatan osteoclast activating factor menyebabkan gejala nyeri tulang dan penekanan saraf
-gangguan produksi antibodi menyebabkan penderita mudah terkena infeksi
-tingginya kalsium dalam darah mengakibatkan gejala anorexia, mual, muntah, konstipasi, poliuria dan gangguan kesadaran.
Radiasi pun bisa menyebabkan mieloma multipel. Misalnya radiasi bom nagasaki. Diduga dari 109.000 warga yang selama, 29 tewas akibat penyakit mieloma multipel.

Dalam kasus mieloma multipel, dikenal istilah Monoclonal Gammophaty of Unknown Significance (MGUS). Sekitar 19% pasien dengan MGUS dapat berkembang menjadi mieloma multipel.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK MIELOMA MULTIPEL?
Menurut jurnal terbaru (Juni 2010) dari http://www.emedicine.com, terapi yang dapat dilakukan adalah transplantasi, radiasi dan terapi pembedahan. Transplantasi biasa dilakukan pada penderita yang tingkat keparahan penyakitnya masih rendah.

Sementara terapi lain seperti radiasi diberikan untuk mengobati penekanan sumsum tulang. Selain itu rasa nyeri yang terasa di daerah punggung akan berangsur berkurang berkat terapi ini.

Dokter juga sering memberikan kemoterapi pada penderita MM. Regimen yang sering diberikan antara lain MP (Melphalan, Prednison) atau VAD (Vincristine, Adryamycine dan dexamethasone). Namun, kemoterapi tidak sepenuhnya (100%) berhasil membunuh sel mieloma.

Obat analgetik (pereda nyeri) pun dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri tulang pada daerah punggung. Dan memang salah satu tujuan dari terapi Mieloma Multipel adalah mengurangi rasa nyeri yang dirasakan penderita.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI MIELOMA MULTIPEL?
Komplikasi mieloma multipel meliputi:
-anemia
-rentan terhadap infeksi
-gagal ginjal
-amyloidosis (penumpukan amiloid pada organ atau jaringan). Ini merupakan salah satu penyebab gagal ginjal pada pasien MM.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH MIELOMA MULTIPEL?
Dalam kasus mieloma multipel, pencegahan sebenarnya tidak mungkin dilakukan, sebab para ilmuwan sendiri pun belum dapat memastikan penyebab utama mieloma multipel secara tepat. Namun, walaupun demikian faktor risiko dapat dihindari maupun dicegah.

Faktor risiko merupakan segala hal yang dapat meningkatkan peluang dideritanya suatu penyakit. Nah, salah satu contoh yang termasuk faktor risiko multipel mieloma adalah paparan radiasi. Menurut para ilmuwan obesitas dan pestisida berperan besar dalam menyebabkan mieloma multipel walaupun tidak termasuk faktor risikonya.

SUMBER REFERENSI:
– Bakta, I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006: 220 – 229.
– Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 627 – 633.
-Greithlein, Sara J. (June 2010). “Multiple Myeloma”. http://www.emedicine.com
– http://www.emedtv.com