Dokter,
Saya punya keponakan perempuan usia 1.7 tahun dengan berat badan 15kg.
Tahun lalu gejala penyakit yang dialami awalnya adalah demam dan penurunan trombosit. Sehingga harus opname 2 bulan sekali.
Namun penyakitnya tidak kunjung sembuh malah intensitasnya semakin sering, seminggu sekali harus transfusi darah putih dan merah. Dokter menyebutkan keponakan saya terkena penyakit Anemia Aplastic dimana sumsumnya tidak memproduksi sel-sel darah dengan baik. Dari jangka 2 bulan sekali, sekarang menjadi seminggu sekali untuk transfusi darah. dan sekarang baru 4 hari harus transfusi lagi karena trombositnya turun menjadi 4.
Yang ingin saya tanyakan, apa penangan yang tepat untuk meyembuhkan penyakit Anemia Aplastic ini. Dan apakah ada pantangannya untuk mengurangi efek dari Anemia Aplastic.
Apakah konsumsi mie berpengawet pada saat Ibu hamil berdampak terhadap calon bayi sehingga mempunyai kaitan timbulnya penyakit Anemia Aplastic?
Mohon pemjelasannya, Dokter.
terima kasih atas perhatian dan waktu luangnya.
(KT)
Pasien: Perempuan, 1.7 tahun, 15 kg, 70 cm
Jawab:
Selamat pagi KT.
Keponakan kamu memang harus mendapat transfusi darah. Sebab ini merupakan pengobatan bagi anemia aplastik untuk saat ini.
Delapan puluh persen kasus anemia aplastik diperoleh dari lingkungan, hanya 20% yang diturunkan. Keponakan kamu mungkin terpapar oleh pemicunya saat masih kecil. Pemicunya antara lain obat-obatan, virus, paparan kimia, dan selebihnya masih belum diketahui.
Obat-obatan seperti kloramfenikol dan fenilbutazone sebaiknya dihindari.
Tidak ada kaitan yang jelas antara konsumsi mie berpengawet oleh si ibu sehingga melahirkan bayi dengan anemia aplastik. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan ini. Sebab kebanyakan kasus, penderita mendapat penyakit anemia aplastik-nya setelah lahir (80% kasus) bukan sebelum lahir.
Pengobatan anemia aplastik selain transfusi darah juga bisa dilakukan suntik IVIG atau transplantasi sumsum tulang. Berhubung keponakan kamu juga masih muda maka transplantasi sumsum tulang juga dapat dilakukan. Namun tetap diskusikan hal ini pada dokter yang bertugas.
Terima kasih
Semoga bermanfaat
