Pak, mau tanya, ibu say sdh 2 bulan berjaln ini terkena sakit anemia aplastic dan sitap 4-5 hari harus tranfusi darah jika trombosit rendah dan setiap hari injection leokosit dan hemapo.
pertanyaan saya adakah terapi lain utk penyembuhannya..?
demikan terima kasih.

salam super

(T)
Pasien: perempuan, 68 tahun, 50 kg, 160 cm

Jawab:
Selamat malam Pak.

Banyak penderita anemia Aplastik sekarang ini mengeluh soal pengobatan. Sebab kebanyakan dari mereka harus mendapat transfusi hampir setiap hari.
Menerima transfusi darah setiap hari bukan bebas dari efek samping. Penumpukan zat besi pun dapat terjadi.

Namun sayangnya, saat ini pengobatan yang bisa diberikan untuk anemia Aplastik adalah transfusi darah. Selain transfusi darah pengobatan lain yang bisa diberikan adalah suntik IVIG dan transfusi sumsum tulang.
Suntik IVIG sangat lah mahal. Bisa mencapai 60 juta sekalia suntik. Namun sekarang ini harganya sudah bervariasi.

Transfusi sumsum tulang juga dapat dilakukan pada penderita anemia Aplastik. Namun tingkat keberhasilannya semakin kecil bila diterapkan pada orang yang tua. Transplantasi sumsum tulang hanya diterapkan pada penderita yang masih muda.

Semoga penjelasan saya bermanfaat.
Terima kasih

Dokter,

Saya punya keponakan perempuan usia 1.7 tahun dengan berat badan 15kg.

Tahun lalu gejala penyakit yang dialami awalnya adalah demam dan penurunan trombosit. Sehingga harus opname 2 bulan sekali.
Namun penyakitnya tidak kunjung sembuh malah intensitasnya semakin sering, seminggu sekali harus transfusi darah putih dan merah. Dokter menyebutkan keponakan saya terkena penyakit Anemia Aplastic dimana sumsumnya tidak memproduksi sel-sel darah dengan baik. Dari jangka 2 bulan sekali, sekarang menjadi seminggu sekali untuk transfusi darah. dan sekarang baru 4 hari harus transfusi lagi karena trombositnya turun menjadi 4.

Yang ingin saya tanyakan, apa penangan yang tepat untuk meyembuhkan penyakit Anemia Aplastic ini. Dan apakah ada pantangannya untuk mengurangi efek dari Anemia Aplastic.

Apakah konsumsi mie berpengawet pada saat Ibu hamil berdampak terhadap calon bayi sehingga mempunyai kaitan timbulnya penyakit Anemia Aplastic?

Mohon pemjelasannya, Dokter.

terima kasih atas perhatian dan waktu luangnya.

(KT)
Pasien: Perempuan, 1.7 tahun, 15 kg, 70 cm

Jawab:

Selamat pagi KT.

Keponakan kamu memang harus mendapat transfusi darah. Sebab ini merupakan pengobatan bagi anemia aplastik untuk saat ini.

Delapan puluh persen kasus anemia aplastik diperoleh dari lingkungan, hanya 20% yang diturunkan. Keponakan kamu mungkin terpapar oleh pemicunya saat masih kecil. Pemicunya antara lain obat-obatan, virus, paparan kimia, dan selebihnya masih belum diketahui.

Obat-obatan seperti kloramfenikol dan fenilbutazone sebaiknya dihindari.

Tidak ada kaitan yang jelas antara konsumsi mie berpengawet oleh si ibu sehingga melahirkan bayi dengan anemia aplastik. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan ini. Sebab kebanyakan kasus, penderita mendapat penyakit anemia aplastik-nya setelah lahir (80% kasus) bukan sebelum lahir.

Pengobatan anemia aplastik selain transfusi darah juga bisa dilakukan suntik IVIG atau transplantasi sumsum tulang. Berhubung keponakan kamu juga masih muda maka transplantasi sumsum tulang juga dapat dilakukan. Namun tetap diskusikan hal ini pada dokter yang bertugas.

Terima kasih
Semoga bermanfaat

Anak saya perempuan umur 6bln dijudgement oleh dokter menderita anemia aplastik, pengobatan didaerah bekasi-jakarta yg terjangkau harganya dimana? Dan seberapa besar kemungkinan sembuh totalnya
Terimakasih banyak..
(AB)

Jawab:
Selamat pagi.

Saya mohon maaf karena referensi saya mengenai pengobatan anemia aplastik di daerah bekasi-jakarta maih kurang. Saya sarankan bawalah anak ibu ke dokter spesialis anak. Nantinya anak ibu akan di rujuk kepada dokter anak khusus yang menangani masalah hematoonkologi atau sejenisnya. Dokter yang saya maksud adalah dokter sub spesialis di bagian spesialis anak.

Pengobatan untuk anemia aplastik beragam. Mulai dari obat-obatan seperti obat golongan imunosupresif, transfusi darah hingga transplantasi sumsum tulang. Tentunya biaya yang akan dikeluarkan cukup besar bu. Saya sangat menyarankan agar ibu memiliki jaminan kesehatan untuk menanggung biaya pengobatan si kecil.

Berbicara soal kesembuhan, tidak ada yang bisa menjamin bu. Prognosis pada kasus anemia aplastik ringan umumnya baik. Biasanya mengalami remisi dengan sempurna. Sedangkan pada kasus anemia aplastik berat prognosisnya masih kurang baik. Untuk menentukan tingkat keparahan anemia aplastik anak ibu, serahkan pada dokter yang akan menangani anak ibu.

Terima kasih bu
Semoga bermanfaat

Samuel Sembiring, dr.

Pasien anemia aplastik mengalami defisit sel darah baik itu sel darah merah, trombosit maupun sel darah putih. Ini menyebabkan pasien anemia aplastik mengalami anemia (kurang sel darah merah), cenderung mengalami perdarahan (kurang trombosit) dan rentan terhadap infeksi (kurang sel darah putih).

APA ITU ANEMIA APLASTIK?

Anemia aplastik merupakan salah satu jenis anemia yang ditandai dengan adanya pansitopenia (defisit sel darah pada jaringan tubuh). Anemia aplastik berbeda dengan anemia biasanya. Anemia yang biasa hanya kekurangan sel darah merah saja, sedangkan anemia aplastik mengalami defisit sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Defisit sel darah pada sumsum tulang ini disebabkan karena kurangnya sel induk pluripoten sehingga sumsum tulang gagal membentuk sel-sel darah. Kegagalan sumsum tulang ini disebabkan banyak faktor. Mulai dari induksi obat, virus, sampai paparan bahan kimia.
Istilah-istilah lain dari anemia aplastik yang sering digunakan antara lain anemia hipoplastik, anemia refrakter, hipositemia progresif, anemia aregeneratif, aleukia hemoragika, panmielofisis dan anemia paralitik toksik.
Kasus anemia aplastik ini sangat rendah pertahunnya. Kira-kira 2 – 5 kasus/juta penduduk/tahun. Dan umumnya penyakit ini bisa diderita semua umur. Meski termasuk jarang, tetapi penyakit ini tergolong penyakit yang berpotensi mengancam jiwa dan biasanya dapat menyebabkan kematian.
Pada pria penyakit anemia aplastik ini lebih berat dibanding wanita walaupun sebenarnya perbandingan jumlah antara pria dan wanita hampir sama. Siapa saja berpeluang mendapat anemia aplastik ini.

APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA PENYAKIT ANEMIA APLASTIK?
Pada penderita anemia aplastik dapat ditemukan tiga gejala utama yaitu, anemia (kurang darah merah), trombositopenia (kurang trombosit), dan leukopenia (kurang leukosit). Ketiga gejala ini disertai dengan gejala-gejala lain yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
?Anemia biasanya ditandai dengan pucat, mudah lelah, lemah, hilang selera makan, dan palpitasi.
?Trombositopenia, misalnya: perdarahan gusi, epistaksis, petekia, ekimosa dan lain-lain.
?Leukopenia, misalnya: infeksi.
Selain itu, hepatosplenomegali dan limfadenopati juga dapat ditemukan pada penderita anemia aplastik ini meski sangat jarang terjadi.

APA SAJA PENYEBAB DARI PENYAKIT INI?
Penyebab hampir sebagian besar kasus anemia aplastik bersifat idiopatik dimana penyebabnya masih belum dapat dipastikan. Namun ada faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya penyakit anemia aplastik ini.
Faktor-faktor penyebab yang dimaksud antara lain:
?Penyakit kongenital atau menurun seperti anemia fanconi, dyskeratosis congenita, sindrom Pearson, sindrom Dubowitz dan lain-lain. Diduga penyakit-penyakit ini memiliki kaitan dengan kegagalan sumsum tulang yang mengakibatkan terjadinya pansitopenia (defisit sel darah).
Menurut sumber referensi yang lain, penyakit-penyakit yang baru saja disebutkan merupakan bentuk lain dari anemia aplastik (Hematologi Klinik Ringkas; Prof. Dr. I Made Bakta).
• Zat-zat kimia yang sering menjadi penyebab anemia aplastik misalnya benzen, arsen, insektisida, dan lain-lain. Zat-zat kimia tersebut biasanya terhirup ataupun terkena (secara kontak kulit) pada seseorang.
• Obat seperti kloramfenikol diduga dapat menyebabkan anemia aplastik. Misalnya pemberian kloramfenikol pada bayi sejak berumur 2 – 3 bulan akan menyebabkan anemia aplastik setelah berumur 6 tahun. America Medical Association juga telah membuat daftar obat-obat yang dapat menimbulkan anemia aplastik. Obat-obat yang dimaksud antara lain: Azathioprine, Karbamazepine, Inhibitor carbonic anhydrase, Kloramfenikol, Ethosuksimide, Indomethasin, Imunoglobulin limfosit, Penisilamine, Probenesid, Quinacrine, Obat-obat sulfonamide, Sulfonilurea, Obat-obat thiazide, Trimethadione.
• Radiasi juga dianggap sebagai penyebab anemia aplastik ini karena dapat mengakibatkan kerusakan pada sel induk ataupun menyebabkan kerusakan pada lingkungan sel induk. Contoh radiasi yang dimaksud antara lain pajanan sinar X yang berlebihan ataupun jatuhan radioaktif (misalnya dari ledakan bom nuklir). Paparan oleh radiasi berenergi tinggi ataupun sedang yang berlangsung lama dapat menyebabkan kegagalan sumsum tulang akut dan kronis maupun anemia aplastik.
• Selain radiasi, infeksi juga dapat menyebabkan anemia aplastik. Misalnya seperti infeksi virus Hepatitis C, EBV, CMV, parvovirus, HIV, dengue dan lain-lain.

TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK PENYAKIT ANEMIA APLASTIK?

Terapi yang dapat dilakukan pada penderita Anemia Aplastik cukup banyak.
• Terapi Suportif
Transfusi sel darah merah dan trombosit sangat bermanfaat. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi kekurangan sel darah merah dan trombosit.
• Faktor-faktor pertumbuhan hematopoietik
Terapi dengan faktor pertumbuhan sebenarnya tidak dapat memperbaiki kerusakan sel induk. Namun terapi ini masih dapat dijadikan pilihan terutama untuk pasien dengan infeksi berat.
• Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang ini dapat dilakukan pada pasien anemia aplastik jika memiliki donor yang cocok HLA-nya (misalnya saudara kembar ataupun saudara kandung). Terapi ini sangat baik pada pasien yang masih anak-anak.
Transplantasi sumsum tulang ini dapat mencapai angka keberhasilan lebih dari 80% jika memiliki donor yang HLA-nya cocok. Namun angka ini dapat menurun bila pasien yang mendapat terapi semakin tua. Artinya, semakin meningkat umur, makin meningkat pula reaksi penolakan sumsum tulang donor. Kondisi ini biasa disebut GVHD atau graft-versus-host disease. Kondisi pasien akan semakin memburuk.
• Terapi imunosupresif
Terapi imunosupresif dapat dijadikan pilihan bagi mereka yang menderita anemia aplastik. Terapi ini dilakukan dengan konsumsi obat-obatan. Obat-obat yang termasuk terapi imunosupresif ini antara lain antithymocyte globulin (ATG) atau antilymphocyte globulin (ALG), siklosporin A (CsA) dan Oxymethalone.
Oxymethalon juga memiliki efek samping diantaranya, retensi garam dan kerusakan hati. Orang dewasa yang tidak mungkin lagi melakukan terapi transplantasi sumsum tulang, dapat melakukan terapi imunosupresif ini.

APA SAJA KOMPLIKASI DARI ANEMIA APLASTIK?
Komplikasi yang paling sering terjadi dari anemia aplastik ini adalah perdarahan dan rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan karena kurangnya kadar trombosit dan kurangnya kadar leukosit. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kadar leukosit dan trombosit ini menurun diakibatkan kegagalan sumsum tulang.
Terapi anemia aplastik juga dapat menyebabkan komplikasi pada penderita anemia aplastik ini. Komplikasi yang dimaksud adalah GVHD (Graft-Versus-Host-Disease). Hal ini merupakan kegagalan dari terapi transplantasi sumsum tulang.
Maksudnya begini, transplantasi sumsum tulang merupakan salah satu terapi untuk penderita Anemia Aplastik. Terapi ini dapat dilakukan jika si pasien masih muda dan HLA si pendonor cocok dengan si penderita. HLA yang cocok biasanya jika berasal dari saudara kandung atau orang tua si penderita. GVHD terjadi sebagai bukti bahwa terapi yang dilakukan gagal.

APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH ANEMIA APLASTIK?
Usaha pertama untuk mencegah anemia aplastik ini adalah menghindari paparan bahan kimia berlebih sebab bahan kimia seperti benzena juga diduga dapat menyebabkan anemia aplastik.
Kemudian hindari juga konsumsi obat-obat yang dapat memicu anemia aplastik. Kalaupun memang harus mengonsumsi obat-obat yang demikian, sebisa mungkin jangan mengonsumsinya secara berlebihan.
Selain bahan kimia dan obat, ada baiknya pula untuk menjauhi radiasi seperti sinar X dan radiasi lainnya yang telah dijelaskan di bagian faktor penyebab di atas.

SUMBER REFERENSI:
?Bakhshi, Sameer, MD. (October 2009). “Aplastic Anemia”. http://www.emedicine.com
?Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”. Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 627 – 633.
?Bakta, I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006: 98 – 110.