image001Sokal Score merupakan perhitungan untuk menilai tinggi rendahnya risiko penyakit CML atau Chronic Myeloid Leukemia.

Rumus sokal score ini sebenarnya sudah ada dan sudah menyebar luas di kalangan dokter. Rumusnya adalah:

Sokal Score = (0.011 (age – 43) + 0.0345 (spleen – 7.5 cm) + 0.188 [(platelets/700)2 – 0.563] + 0.0887 (% blasts in blood – 2.1).

Hasilnya akan dicocokkan dengan 3 kategori sokal score, yaitu:

Risiko rendah, kurang dari 0.8
Risiko sedang, 0.8 – 1.2
Risiko tinggi, lebih dari 1.2

Software ini dibuat dalam dua bahasa (bilingual), Indonesia dan bahasa Inggris.Continue reading

Diagnosis Diferinsial Nyeri Lutut_DEPAN

Diagnosis Diferensial Nyeri Lutut

Penulis: dr. Samuel P. K. Sembiring
Kategori: Kesehatan
ISBN: 978-602-371-548-0

Gejala nyeri lutut merupakan gejala yang umum dan hampir semua orang alami. Nyeri lutut bukanlah penyakit, tetapi manifestasi dari kondisi atau penyakit yang mendasarinya. Manifestasi ini dapat timbul mulai dari suatu kondisi yang fisiologis hingga penyakit yang bersifat fatal. Trauma atau benturan pada lutut tentu mengakibatkan nyeri pada lutut. Dan nyeri ini bersifat wajar karena adanya reaksi inflamasi maupun produksi prostaglandin lokal terhadap reaksi trauma. Namun, trauma juga dapat bersifat patologis ketika faktor trauma menjadi faktor risiko bagi penyakit lain. Misalnya, trauma yang mengakibatkan fraktur, perdarahan di dalam sendi lutut, nekrotik tulang dalam sendi lutut dan sebagainya.Continue reading

Rokok Elektrik atau biasa dikenal vape, yang awalnya ditujukan untuk mengalihkan perokok konvensional, kini justru membangkitkan jutaan perokok baru. Malah perokok konvensional enggan untuk beralih karena rokok elektrik tidak memberikan sensasi yang sama dibanding rokok konvensional.

Rokok elektrik, selanjutnya disebut RE, awalnya ditemukan oleh Lik Hon di Hongkong pada tahun 2003. Dengan cepat, RE menjadi populer terutama di negara-negara Eropa. RE diciptakan untuk membantu perokok konvensional untuk beralih memilih produk yang lebih aman. Sebab di dalam RE terkandung nikotin, propylene glycol, zat-zat additive dan tembakau dalam kadar yang relatif lebih rendah dibanding rokok lama.

Banyak perokok konvensional yang sebenarnya ingin berhenti merokok namun sulit karena candu. Atas dasar ini, Lik Hon berinisiatif untuk membuat alternatif rokok dengan mengurangi kadar nikotinnya, dengan harapan para perokok dapat lebih mudah mengurangi rokok atau bahkan berhenti merokok.

Awalnya FDA (Food and Drug Administration) tidak setuju karena belum ada penelitian mengenai dampak dari RE. FDA juga berpendapat RE tidak ada bedanya dengan rokok lama karena sama-sama memberikan nikotin pada penggunanya. Namun, karena kandungan dalam RE lebih rendah dibandingkan rokok konvensional juga belum ada data mengenai dampak penggunaan RE, maka RE tetap beredar di pasaran.

Fenomena RE di Indonesia
RE dengan cepat menarik perhatian kaum muda, karena kesannya dianggap seperti “mainan baru”. Ada daya “keren” yang tersemat bagi penggunanya. Selain itu adanya variasi aroma harum dan rasa yang menarik membuat para penggunanya terus ingin mencoba bahkan penasaran dengan variasi liquid RE lain. Kompetisi asap RE dan aksi pamer di sosial media juga besar pengaruhnya bagi kawula muda kita.

Fenomena yang terjadi sekarang adalah begitu banyaknya anak-anak muda yang menggemari RE. Rerata usia perokok kini cenderung semakin muda akibat banyaknya generasi muda yang menghisap RE. Sebagian akhirnya terjerumus mencicipi rokok konvensional setelah “belajar merokok” dari RE. Sementara itu, perokok perempuan makin bertambah. Mereka beranggapan RE lebih bersahabat dibanding rokok tipe lama.

Di pihak lain, perokok konvensional yang diharapkan meninggalkan rokok konvesional setelah menggunakan RE, justru kini menjadi Dual User. Dual User merupakan istilah mereka yang menghisap rokok konvensional dan juga rokok elektrik. Bahayanya, ternyata frekuensi merokok Dual User semakin meningkat dibandingkan saat masih merokok konvensional. Hal ini justru memperbesar peluang bagi perokok untuk mengidap kanker paru ataupun penyakit paru obstruktif kronis.

Apa saja kandungan dalam liquid RE?
Rokok elektrik menggunakan liquid sebagai “bensin”-nya. Nah, liquid RE pada umumnya mengandung nikotin, propylene glyocol, zat flavorant, dan tembakau. Zat-zat ini diklaim lebih sedikit kadarnya dibandingkan yang ada pada rokok konvensional. Liquid ini dimasukkan ke dalam cartridge RE yang kemudian akan melalui proses pemanasan liquid. Emisi dari liquid ini akan berupa “asap” rokok.

Propylene glycol bila dipanaskan akan menghasilkan propylene oxide yang merupakan zat karsinogen (zat pencetus kanker). Kadar propylene glycol dalam RE memang sedikit, sehingga hingga saat ini belum dijumpai kasus kanker paru akibat RE. Masih dibutuhkan penelitian lebih banyak mengenai efek jangka panjang pada pemanasan zat ini.

Penelitian terhadap liquid tergolong cukup sulit dan problematik. Ada begitu banyak liquid yang beredar di pasaran dan semuanya variatif, sehingga bila kadar zat-zatnya diukur, hasilnya akan berbeda satu sama lain. Dampak buruk RE menjadi sulit ditentukan.

Nikotin dipastikan selalu ada di seluruh liquid, bahkan pada produk dengan label “zero nicotine” sekalipun. Tidak hanya di dalam liquid, namun cartridge RE juga mengandung nikotin. Cartridge RE sama halnya seperti pada cartridge printer, yaitu berfungsi untuk menampung liquid.

Saat ini banyak sekali pabrik yang memproduksi liquid. Bahkan ada juga liquid yang bisa dibuat secara mandiri (tidak diproduksi oleh pabrik). Itu sebabnya sangat sulit menentukan standar kandungan liquid RE. Tiap liquid tentu akan berbeda-beda kandungannya (terutama kadar zatnya). Hal ini juga menjadi alasan mengapa penelitian terhadap liquid RE menjadi sulit.

Apa efek yang terjadi?
Hampir banyak referensi penelitian menyebutkan efek jangka pendek dari penggunaan RE adalah peningkatan resistensi saluran napas yang akhirnya berkaitan dengan penurunan kemampuan ekshalasi nitrit oksida. Tetapi efek ini tidak terlalu signifikan. Sementara efek jangka panjangnya belum jelas.

Pada anak, paparan lama asap RE dapat mencetus rhinitis, asma, eksema dan gejala alergi. Efek kronik lainnya adalah penurunan fungsi pernapasan. Semua tanda ini merupakan akibat dari zat propylene glycol. Sementara efek ringan yang mungkin dialami para perokok RE antara mulut dan tenggorokan kering serta peningkatan tekanan darah.

Apakah RE terjamin aman?
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa RE aman. Selain dampak-dampak langsung yang telah dipaparkan di atas, ternyata banyak hal-hal lain yang terjadi akibat hadirnya RE dalam dekade terakhir. Misalnya kasus-kasus anak-anak kecil yang meminum liquid RE, obstruksi saluran napas karena tersedak cartridge, luka bakar pada wajah akibat RE yang meledak, serta penggunaan liquid RE sebagai usaha bunuh diri.

Berangkat dari hal-hal itu, perlu ada regulasi dari pemerintah atas penjualan RE serta liquidnya. Harus ada batasan bahwa anak-anak tidak boleh membeli RE. BPOM mungkin perlu mengecek kembali kandungan liquid-liquid beredar di pasar Indonesia, supaya tidak ada lagi kecolongan. Mungkin saja ada liquid yang dicampurkan dengan hal-hal yang tidak kita inginkan. Belakangan banyak juga mesin RE yang ternyata tidak standar dijual di pasaran hanya untuk merangkul peminat yang kekuatan ekonominya rendah. Tidak hanya itu, mesin RE second atau bekas juga cukup laku keras. Ya, saat ini kita belum berbicara soal kemungkinan penularan penyakit akibat penggunaan mesin RE bekas atau kebiasaan tukar menukar RE dengan rekan sesama perokok.

Kita berharap penggunaan RE ini bisa kembali kepada tujuan awal diciptakannya yaitu membantu perokok konvensional untuk mengurangi rokok atau berhenti merokok.

Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Analisa Tanggal 2 April 2018

Difteri merupakan penyakit akibat infeksi kuman Corynebacterium diphtheria. Penyakit ini tergolong cukup berat karena dapat mengakibatkan kematian. Sekitar 5-10% dari total jumlah penderita difteri meninggal. Adapun gejala penyakit ini antara lain lemah lunglai, pembengkakan kelenjar di leher, demam serta plak di tenggorok. Penyakit ini juga dapat melibatkan dan merusak jantung, ginjal maupun saraf sehingga penderita dapat mengalami komplikasi dan berakhir dengan kematian. Kuman difteri dapat menyebar antar orang melalui droplet bersin atau batuk ataupun kontak langsung dengan penderita.

Vaksin difteri merupakan vaksin yang berfungsi untuk mencegah penyakit difteri yang diakibatkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Vaksin ini umumnya didapat dalam kombinasi vaksin lain. Untuk anak yang berusia dibawah 7 tahun dapat diberikan vaksin DT untuk mencegah Difteri dan tetanus atau vaksin DTaP untuk mencegah difteri, tetanus dan pertussis. Sedangkan pada anak diatas 7 tahun, remaja maupun orang dewasa dapat diberikan vaksin Tdap untuk mencegah difteri, tetanus dan pertussis atau vaksin Td untuk mencegah difteri dan tetanus.

Hingga November 2017, terdapat 20 provinsi yang telah melaporkan adanya kejadian difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian. Kementerian Kesehatan menetapkan tiga provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten sebagai provinsi yang paling tinggi angka kejadiannya. Di Indonesia cukup banyak anak yang tidak melengkapi imunisasinya, sehingga angka kejadian kasus ini masih cukup tinggi. Ditambah lagi, orang dewasa Indonesia masih sangat banyak yang tidak mendapat booster vaksin difteri. Hal ini membuat transmisi penularan penyakit ini masih cukup tinggi.

Mengapa vaksin ini perlu diberikan?
Sebenarnya penyakit difteri sudah mulai berkurang bila dibandingkan dengan masa-masa sebelum vaksin difteri ditemukan. Namun berhubung penyakit ini sangat mudah menular, maka vaksin difteri ini sangatlah perlu. Vaksin ini perlu diberikan pada tenaga kesehatan yang sering kontak dengan pasien, serta orang-orang yang berada di lingkungan sekitar penderita difteri. Namun pada mereka yang alergi terhadap vaksin ini, maka vaksin ini tidak boleh diberikan.

Orang dewasa sangat dianjurkan, sebab kebanyakan penderita difteri di Indonesia saat ini adalah orang dewasa ataupun anak-anak remaja. Anak-anak kecil masih terlindungi oleh vaksin DT atau DTaP kecuali anak yang belum diimunisasi ataupun imunisasinya yang tidak lengkap. Meski terimunisasi namun kekebalan terhadap difteri seiring waktu akan menurun.

Kapan vaksin ini diberikan?

Pada orang dewasa dapat diberikan booster untuk setiap 10 tahun. Sedangkan pada wanita hamil, vaksin ini diberi saat trimester ketiga setiap kehamilan. Untuk anak-anak yang sudah mendapat vaksin DT atau DTaP (sesuai jadwal) tidak perlu diberikan kembali, kecuali anak yang sudah berusia diatas 7 tahun, sebaiknya vaksin diberikan saat usia 11 atau 12 tahun.

Pemberian vaksin DTaP ataupun DT pada saat masih kecil belum cukup untuk melindungi tubuh dari kuman difteri. Sebab masa vaksin ini tidak bertahan seumur hidup. Sehingga tetap harus diberikan booster, paling tidak setiap 10 tahun sekali terutama pada orang yang berisiko.

Adakah efek sampingnya?

Sama halnya dengan obat atau vaksin lain, vaksin ini pun memiliki efek samping. Namun biasanya bersifat ringan dan akan hilang dalam waktu beberapa hari. Efek samping vaksin ini antara lain nyeri, bengkak maupun kemerahan pada lokasi injeksi vaksin, demam, mengigil, nyeri kepala, cepat lelah, mual dan diare. Kejang dapat terjadi pada anak, namun kasus ini sangat jarang terjadi.

Vaksin ini bisa diperoleh di pusat layanan kesehatan seperti di puskesmas maupun di rumah sakit. Mari bersama-sama kita cegah dan putuskan penularan penyakit difteri ini!

Tulisan ini diperbarui 23 Januari 2019