Bahaya Dibalik Tren Rokok Elektrik

Rokok Elektrik atau biasa dikenal vape, yang awalnya ditujukan untuk mengalihkan perokok konvensional, kini justru membangkitkan jutaan perokok baru. Malah perokok konvensional enggan untuk beralih karena rokok elektrik tidak memberikan sensasi yang sama dibanding rokok konvensional.

Rokok elektrik, selanjutnya disebut RE, awalnya ditemukan oleh Lik Hon di Hongkong pada tahun 2003. Dengan cepat, RE menjadi populer terutama di negara-negara Eropa. RE diciptakan untuk membantu perokok konvensional untuk beralih memilih produk yang lebih aman. Sebab di dalam RE terkandung nikotin, propylene glycol, zat-zat additive dan tembakau dalam kadar yang relatif lebih rendah dibanding rokok lama.

Banyak perokok konvensional yang sebenarnya ingin berhenti merokok namun sulit karena candu. Atas dasar ini, Lik Hon berinisiatif untuk membuat alternatif rokok dengan mengurangi kadar nikotinnya, dengan harapan para perokok dapat lebih mudah mengurangi rokok atau bahkan berhenti merokok.

Awalnya FDA (Food and Drug Administration) tidak setuju karena belum ada penelitian mengenai dampak dari RE. FDA juga berpendapat RE tidak ada bedanya dengan rokok lama karena sama-sama memberikan nikotin pada penggunanya. Namun, karena kandungan dalam RE lebih rendah dibandingkan rokok konvensional juga belum ada data mengenai dampak penggunaan RE, maka RE tetap beredar di pasaran.

Fenomena RE di Indonesia
RE dengan cepat menarik perhatian kaum muda, karena kesannya dianggap seperti “mainan baru”. Ada daya “keren” yang tersemat bagi penggunanya. Selain itu adanya variasi aroma harum dan rasa yang menarik membuat para penggunanya terus ingin mencoba bahkan penasaran dengan variasi liquid RE lain. Kompetisi asap RE dan aksi pamer di sosial media juga besar pengaruhnya bagi kawula muda kita.

Fenomena yang terjadi sekarang adalah begitu banyaknya anak-anak muda yang menggemari RE. Rerata usia perokok kini cenderung semakin muda akibat banyaknya generasi muda yang menghisap RE. Sebagian akhirnya terjerumus mencicipi rokok konvensional setelah “belajar merokok” dari RE. Sementara itu, perokok perempuan makin bertambah. Mereka beranggapan RE lebih bersahabat dibanding rokok tipe lama.

Di pihak lain, perokok konvensional yang diharapkan meninggalkan rokok konvesional setelah menggunakan RE, justru kini menjadi Dual User. Dual User merupakan istilah mereka yang menghisap rokok konvensional dan juga rokok elektrik. Bahayanya, ternyata frekuensi merokok Dual User semakin meningkat dibandingkan saat masih merokok konvensional. Hal ini justru memperbesar peluang bagi perokok untuk mengidap kanker paru ataupun penyakit paru obstruktif kronis.

Apa saja kandungan dalam liquid RE?
Rokok elektrik menggunakan liquid sebagai “bensin”-nya. Nah, liquid RE pada umumnya mengandung nikotin, propylene glyocol, zat flavorant, dan tembakau. Zat-zat ini diklaim lebih sedikit kadarnya dibandingkan yang ada pada rokok konvensional. Liquid ini dimasukkan ke dalam cartridge RE yang kemudian akan melalui proses pemanasan liquid. Emisi dari liquid ini akan berupa “asap” rokok.

Propylene glycol bila dipanaskan akan menghasilkan propylene oxide yang merupakan zat karsinogen (zat pencetus kanker). Kadar propylene glycol dalam RE memang sedikit, sehingga hingga saat ini belum dijumpai kasus kanker paru akibat RE. Masih dibutuhkan penelitian lebih banyak mengenai efek jangka panjang pada pemanasan zat ini.

Penelitian terhadap liquid tergolong cukup sulit dan problematik. Ada begitu banyak liquid yang beredar di pasaran dan semuanya variatif, sehingga bila kadar zat-zatnya diukur, hasilnya akan berbeda satu sama lain. Dampak buruk RE menjadi sulit ditentukan.

Nikotin dipastikan selalu ada di seluruh liquid, bahkan pada produk dengan label “zero nicotine” sekalipun. Tidak hanya di dalam liquid, namun cartridge RE juga mengandung nikotin. Cartridge RE sama halnya seperti pada cartridge printer, yaitu berfungsi untuk menampung liquid.

Saat ini banyak sekali pabrik yang memproduksi liquid. Bahkan ada juga liquid yang bisa dibuat secara mandiri (tidak diproduksi oleh pabrik). Itu sebabnya sangat sulit menentukan standar kandungan liquid RE. Tiap liquid tentu akan berbeda-beda kandungannya (terutama kadar zatnya). Hal ini juga menjadi alasan mengapa penelitian terhadap liquid RE menjadi sulit.

Apa efek yang terjadi?
Hampir banyak referensi penelitian menyebutkan efek jangka pendek dari penggunaan RE adalah peningkatan resistensi saluran napas yang akhirnya berkaitan dengan penurunan kemampuan ekshalasi nitrit oksida. Tetapi efek ini tidak terlalu signifikan. Sementara efek jangka panjangnya belum jelas.

Pada anak, paparan lama asap RE dapat mencetus rhinitis, asma, eksema dan gejala alergi. Efek kronik lainnya adalah penurunan fungsi pernapasan. Semua tanda ini merupakan akibat dari zat propylene glycol. Sementara efek ringan yang mungkin dialami para perokok RE antara mulut dan tenggorokan kering serta peningkatan tekanan darah.

Apakah RE terjamin aman?
Tidak ada yang bisa menjamin bahwa RE aman. Selain dampak-dampak langsung yang telah dipaparkan di atas, ternyata banyak hal-hal lain yang terjadi akibat hadirnya RE dalam dekade terakhir. Misalnya kasus-kasus anak-anak kecil yang meminum liquid RE, obstruksi saluran napas karena tersedak cartridge, luka bakar pada wajah akibat RE yang meledak, serta penggunaan liquid RE sebagai usaha bunuh diri.

Berangkat dari hal-hal itu, perlu ada regulasi dari pemerintah atas penjualan RE serta liquidnya. Harus ada batasan bahwa anak-anak tidak boleh membeli RE. BPOM mungkin perlu mengecek kembali kandungan liquid-liquid beredar di pasar Indonesia, supaya tidak ada lagi kecolongan. Mungkin saja ada liquid yang dicampurkan dengan hal-hal yang tidak kita inginkan. Belakangan banyak juga mesin RE yang ternyata tidak standar dijual di pasaran hanya untuk merangkul peminat yang kekuatan ekonominya rendah. Tidak hanya itu, mesin RE second atau bekas juga cukup laku keras. Ya, saat ini kita belum berbicara soal kemungkinan penularan penyakit akibat penggunaan mesin RE bekas atau kebiasaan tukar menukar RE dengan rekan sesama perokok.

Kita berharap penggunaan RE ini bisa kembali kepada tujuan awal diciptakannya yaitu membantu perokok konvensional untuk mengurangi rokok atau berhenti merokok.

Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Analisa Tanggal 2 April 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *