Hampir semua orang telah mengenali istilah penyakit tetanus. Ciri atau tanda penyakit ini amat khas, yaitu “kaku otot”. Dan biasanya bisa mencakup keseluruhan tubuh. Siapa saja bisa terkena. Tidak peduli umur ataupun jenis kelamin. Artinya setiap orang memiliki peluang yang sama menderita tetanus. Sialnya, tetanus bisa mengakibatkan kematian. Lalu bagaimana cara kita agar terlindung dari tetanus?
Apa itu Tetanus?
Tetanus merupakan penyakit akibat infeksi bakteri Clostridium tetani yang ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme. Penyakit ini masih menjadi salah satu penyakit yang penting di negara beriklim tropis seperti di Indonesia terutama di daerah pertanian ataupun pedesaan.
Bakteri Clostridium tetani pertama kali diisolasi oleh S. Kitosato pada tahun 1899 ketika dia sedang bekerja dengan R. Coch di Jerman. Dia juga lah yang pertama menemukan toksin tetanus sekaligus mengembangkan vaksin tetanus.
Anak-anak sangat rentan terhadap penyakit ini karena mereka sering terluka dan ditambah lagi kurangnya perhatian mereka terhadap kebersihan luka mereka. Bahkan bayi yang baru lahir juga berpeluang menderita tetanus. Bayi dapat terkena tetanus saat pemotongan tali pusat. Ini yang kita sebut dengan istilah “Tetanus Neonatorum”.
Seperti yang telah kita ketahui, bakteri Clostridium tetani ini menyerang lewat kontaminasi luka dari tanah, debu, kotoran hewan dan sebagainya. Maka sering dijadikan salah satu alasan diagnosis dari tetanus jika ditemukan luka pada si pasien beberapa hari sebelum muncul gejala tetanus.
Apa saja gejala Tetanus?
Bakteri Clostridium tetani masuk ke dalam tubuh lewat luka yang terbuka. Kira-kira setelah satu atau minggu barulah gejala-gejalanya akan terlihat. Penyakit ini diawali dengan gejala sakit kepala, gelisah, dan nyeri pada otot rahang. Dan akhirnya beberapa otot tubuh mulai sakit paa[ seperti di leher, perut, kaki, tangan dan wajah. Terkadang kejang bisa muncul jika rasa sakit menjadi berlebihan.
Selain kejang pada otot, tetanus juga mengakibatkan kejang pada mulut. Ini juga termasuk gejala yang paling umum. Ini akibat dari kejangnya otot-otot rahang yang bertanggung jawab untuk mengunyah. Penderita yang mengalami kejang pada mulut terlihat seolah-olah “senyum sinis” yang sering juga dijadikan salah satu tanda tetanus. Gambaran senyum senis ini dalam medis disebut sardonicus risus).
Gejala tetanus antara anak yang sudah besar dengan bayi kurang lebih sama hanya saja bayi memiliki peluang mendapatkan kematian lebih besar. Bayi yang terkena tetanus memiliki gejala antara lain demam, terus-menerus menangis, tidak mau menyusui, dan daerah pusat terlihat merah dan bengkak.
Clostridium tetani memiliki toksin yang disebut tetanospasmin. Toksin atau racun ini mampu mempengaruhi sistem saraf dan mengakibatkan kejang otot yang parah dan menyakitkan. Dan akhirnya tubuh bisa terlihat sangat bengkok akibat tubuh yang tegang berlebihan (tubuh bagian belakang terlihat melengkung).
Tetanospasmin mampu mengikat saraf motorik yang mengontrol otot, memasuki akson (filament yang memanjang dari sel-sel saraf), dan perjalanan dalam akson sampai mencapai tubuh saraf motorik di sumsum tulang belakang atau otak (proses transportasi intraneuronal disebut retrograde). Kemudian toksin bermigrasi ke dalam sinaps (ruang kecil antara sel-sel saraf penting untuk transmisi sinyal di antara sel saraf) di mana ia mengikat ke terminal saraf presynaptic dan menghambat atau menghentikan pelepasan neurotransmitter inhibisi tertentu (glisin dan asam gamma-aminobutyric).
Karena saraf motorik tidak memiliki hambat sinyal dari saraf lainnya, sinyal kimia pada saraf motorik dari otot semakin intensif, menyebabkan otot untuk memperketat kontraksi terus-menerus atau kejang. Jika tetanospasmin mencapai aliran darah atau pembuluh limfatik dari situs luka, dapat disimpan di banyak terminal presynaptic berbeda sehingga efek yang sama pada otot lain.
Bisakah diobati?
Tentu saja bisa! Biasanya penderita tetanus dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit untuk menerima terapi cairan dan obat untuk mengontrol otot-otot yang kaku dan sakit. Luka tempat masuknya tetanus juga akan dibersihkan oleh dokter.
Obat-obat yang akan diberikan antara antibiotik dan juga Anti Tetanus Serum (ATS) untuk menetralisir toksin tetanus. Biasanya penderita tetanus akan pulih dengan baik, namun untuk penderita dengan kasus yang berat sekitar 80-90% akan mengalami kematian.
Sasaran dari pengobatan tetanus ini adalah menghentikan produksi toksin, menetralkan efeknya dan mengendalikan kejang otot. Jika toksin sudah terlalu banyak beredar dalam tubuh, maka pengobatan harus diarahkan dengan menetralkannya dengan obat antitoksin. Untungnya toksin tetanus ini tidak menyebabkan kerusakan sistem saraf yang permanen setelah penderita sembuh, namun penderita masih memerlukan imunisasi aktif sebab penyakit tetanus tidak memberikan imunisasi alami terhadap infeksi berulang.
Mari kita cegah!
Pencegahan masih lebih baik dibanding pengobatannya. Pencegahan bisa dengan vaksinasi saat masih bayi. Terkadang vaksin ini diberikan bersamaan dengan vaksin difteri (TD) ataupun bersama vaksin pertusis (DTP).
Metode sanitasi yang baik juga sangat dibutuhkan dalam penanganan kelahiran bayi. Masalahnya, masih banyak bidan-bidan desa yang kurang memperhatikan kebersihan saat membantu persalinan. Menurut catatan program vaksinasi tetanus, sudah ada setidaknya tiga kasus tetanus neonatal, dan setiap kasusnya adalah ibu-ibu yang tidak lengkap riwayat imunisasi tetanus toksoid-nya.
Imunisasi tetanus toksoid merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus. Dan imunisasi ini hanya dikhususkan bagi mereka yang sudah berumur tujuh tahun ke atas. Jenis imunisasi ini dilakukan minimal lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Nah, namun faktanya imunisasi ini sering diabaikan, sehingga pada akhirnya pemerintah menganjurkan imunisasi dilakukan pada pasangan calon suami-istri. Hal ini berguna untuk bayi yang akan dilahirkan nanti.
Selain imunisasi, pembersihan luka secara menyeluruh juga sangatlah penting. Cobalah untuk membersihkan luka dengan air bersih dan sabun lalu keluarkan kotoran-kotoran lukanya. Kesimpulannya, jangan pernah anggap remeh dengan luka yang ada pada anak anda!
Bacaan lebih lanjut:
– Ilmu Penyakit Dalam FKUI: 1777-1779
– “Luka Terkena Benda Tajam, Hati-hati Tetanus!” oleh dr. Arie Yulianto
– “Anak-anak dan tetanus” at http://scumdoctor.com
