12794347_10208639968466927_2800674493770425627_nKemarin tanggal 29 Februari 2016, dokter dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di Jakarta untuk melaksanakan Aksi Damai. Kegiatan ini sudah direncanakan dari jauh hari, jadi persiapan pun pastinya sudah matang. Tujuan dilaksanakannya aksi ini untuk menuntut reformasi JKN.

Ternyata masih banyak yang tidak mengerti tujuan ini. Terutama masyarakat umum. Banyak yang tidak tahu bahwa demo ini sebenarnya membela mereka sendiri. Membela hak mereka dalam mendapat pelayanan kesehatan. Terutama peserta JKN. Kebanyakan masih berpikir para dokter berdemo untuk kepentingan mereka sendiri.

Saya mencoba men-googling informasi tentang aksi damai dokter kemarin. Dan hasilnya saya mendapati beberapa berita media online di beberapa website berita lokal ternama. Sebagian dari berita tentang aksi damai dokter di website tersebut cukup objektif. Tetapi saya mendapati berita yang cukup aneh. Di judulnya tertulis “Unjuk Rasa Dokter: Kami Hidup dengan gaji pas-pasan.” Alhasil, ratusan komentar negatif terpampang di bawah artikel berita tersebut.

Tak satupun komentar positif yang saya jumpai. Akhirnya saya mencoba untuk memberi komentar. Setidaknya berusaha untuk memberikan pernyataan yang benar. Namun sampai sekarang komentar saya tidak di-approve. Mungkin jadi komentar positif lain juga bernasib demikian. Siapa tahu?

Tidak tahu apa maksud dan tujuan artikel tersebut. Agak miris. Mengapa? Itu berita yang salah, sebab tujuan aksi damai dokter kemarin bukan menuntut penghasilan atau gaji melainkan menuntut perubahan JKN ke arah yang lebih baik. Sebagai dokter, saya harus memberikan pernyataan yang benar kepada pasien atau masyarakat karena ini termasuk kewajiban profesi.

JKN merupakan program Pemerintah yang bertujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi seluruh rakyat Indonesia untuk dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera. Bedanya dengan BPJS, JKN ini merupakan program pelayanannya sementara BPJS adalah perusahaan yang menjalankannya.

Ada empat prinsip utama yang menjadi acuan pelaksanaan JKN, yaitu gotong royong, portability, ekuitas atau kesamaan layanan dan akuntabilitas. Saya yakin JKN sebenarnya sudah dipersiapkan dengan matang, namun dalam praktiknya mungkin masih ada kekurangan.

Kendala-kendala dalam pelaksanaan sering terjadi. Entah karena BPJS yang memang belum siap, atau kendala-kendala ini mungkin belum diperkirakan sebelumnya. Banyak dokter harus bekerja substandar untuk melayani pasien akibat keterbatasan dana dan banyaknya aturan yang dibuat. Akibatnya pelayanan tidak maksimal. Dan ujung-ujungnya rasa kecewa pasien muncul terhadap dokter dan bpjs. Sudah bayar sekian tetapi yang didapat rasanya kurang dari sekian.

Terkadang dokter yang disalahkan karena meresepkan obat-obat generik. Padahal itu dilakukan dengan terpaksa dibawah aturan. Pasien tidak tahu. Yang pasien tahu dana asuransi kesehatannya diirit. Pasien mencoba request obat, dokter menolak. Adu mulut muncul.

“Saya bayar BPJS kok. Jangan pikir saya gratis”

Beberapa kasus lain, pasien-pasien yang datang melalui rawat jalan terkadang terpaksa harus dirawatinapkan agar dana dari kapitasi untuk pasien tercukupi tercukupi. Mengapa? Biasanya ini sering dilakukan ketika dokter ingin menerapkan banyak pemeriksaan pada pasien, namun karena butuh biaya yang banyak maka pasien harus dirawatinap. Sebab dana kapitasi untuk pasien rawat inap lebih besar.

Kapitasi sendiri adalah cara bayar perusahaan asuransi untuk jasa pelayanan kesehatan pada Pemberi Pelayanan Kesehatan. Pemberi Pelayanan Kesehatan atau PPK dalam hal ini contohnya seperti rumah sakit, klinik atau dokter. Jadi pihak BPJSK memberikan kapitasi pada rumah sakit untuk biaya pelayanan kesehatan pada pasien-pasiennya dalam hal ini peserta JKN. Jadi wajar apabila dana kapitasi untuk pasien rawat inap lebih besar dibanding rawat jalan.

Dokter harus sadar biaya. Dokter kini diajak hitung-hitungan, agar budget kapitasi untuk dana pelayanan kesehatan pasiennya cukup, boleh kurang, tetapi tidak lebih. Inilah yang menjadi hambatan bagi seorang dokter untuk memberikan pelayanan yang maksimal pada pasiennya. Selain harus memikirkan diagnosis dan terapi pasiennya dia harus tetap awas agar pemeriksaan dan terapinya tidak melebihi budget.

***

Di Inggris, para dokter pernah melakukan mogok massal pada tahun 1975. Alasannya karena mereka menuntut pengurangan jam kerja. Pasalnya mereka bekerja selama 40 jam/minggu. Karena hal ini dapat mempengaruhi kinerja mereka dalam melayani pasien-pasien mereka. Mereka tidak menuntut peningkatan gaji atau penghasilan sebab penghasilan mereka sudah sangat tinggi. Mereka juga tidak menuntut reformasi jaminan kesehatan mereka, karena regulasi jaminan kesehatan mereka sudah cukup baik.

Di Indonesia, penghasilan dokter tergolong jauh lebih rendah dari dokter-dokter asing. Jam kerja yang tinggi dalam seminggu, lebih dari 50/minggu. Tetapi hari ini dokter Indonesia tidak mogok untuk itu, melainkan menuntut reformasi JKN. Menuntut pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Cara pandang masyarakat kita dengan orang asing juga berbeda dalam menanggapi demo dokter. Dokter asing mogok pengurangan jam kerja, masyarakat mendukung dan menganggap lumrah. Karena mereka yakin pelayanan akan semakin baik nantinya. Sebaliknya bila dokter Indonesia mogok untuk pengurangan jam kerja, muncul opini bahwa seharus dokter itu melayani dan mengabdi, bukan justru meminta keringanan kerja.

Opini terus digiring. Ibarat lari estafet, opini disambung dari generasi ke generasi masyarakat berikutnya, sehingga opini-opini ini sulit sekali hilang.

Kemarin, tanggal 29 Februari 2016 dokter Indonesia telah berjuang keras, untuk mengembalikan hak pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik sekaligus keleluasaan dokter mengerjakan kewajibannya secara maksimal. Bukan demo untuk kepentingan sendiri. Ini berbicara soal pasien. Perjuangan untuk pasien. Mari kita dukung terus dokter Indonesia, agar kesehatan bangsa kita semakin hari semakin baik.

Di Indonesia kamu bisa membeli antibiotik dengan mudah dan murah. Apotek akan memberikannya bahkan tanpa resep dokter. Satu sisi ini menguntungkan namun di sisi lain juga merugikan. Di negara lain yang lebih maju, apotek tidak akan menjual obatnya (apalagi antibiotik) jika tanpa resep dokter.

Apa untungnya bisa membeli antibiotik tanpa resep? Antibiotik dijual dengan bebas sehingga siapa saja dapat membelinya. Dengan dijualnya antibiotik dengan mudah, siapa saja cukup berani mengobati dirinya sendiri. Sekarang ini sudah banyak sekali konten informasi tentang penyakit di internet. Masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. Informasi tentang antibiotik apa saja bisa kamu dapatkan. Kekurangan, kelebihan bahkan efek sampingnya.

Antibiotik digunakan bila ada infeksi kuman/bakteri. Bila infeksinya adalah virus maka obat yang digunakan adalah antivirus. Walaupun beberapa kasus infeksi virus, antibiotik juga diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.

Seyogyanya, antibiotik diberikan apabila tanda infeksi bisa dibuktikan. Di rumah sakit, pasien biasanya diminta untuk cek darah untuk melihat tanda-tanda infeksi seperti peningkatan leukosit dan neutrofil segmen. Nah, apabila terbukti bahwa ada tanda infeksi maka antibiotik segera diberi, sebaliknya jika tidak maka yang diberi hanya obat simtomatis saja. Antibiotik tidak. Inilah alasan mengapa dokter tidak meresepkan antibiotik walau pasiennya mengeluh demam.

Namun terkadang pada praktiknya, pasien demam sering diberi antibiotik walau tidak didukung dengan pemeriksaan darah. Biasanya hal ini sering dilakukan di klinik atau praktik dokter yang tidak menyediakan pemeriksaan darah. Alasannya disamping pemeriksaan tidak ada, pasien harus mengeluarkan biaya pemeriksaan. Belum lagi harus menunggu hasil pemeriksaannya selesai. Sehingga muncul opini bahwa pemberian antibiotik tanpa didukung pemeriksaan dianggap praktis. Dan di satu sisi hal ini juga sebenarnya menguntungkan pasien.

Menurut pandangan saya, ada beberapa kerugian atau kekurangan bila antibiotik-antibiotik ini bisa dibeli dengan mudah tanpa resep dokter.

1. Dokter dijadikan alternatif kesembuhan bila obat yang dibeli (terutama antibiotik) tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Kebanyakan memang seperti ini. Saya tidak bermaksud menyalahkan. Tidak sedikit pasien yang datang kepada saya ternyata sudah mencoba beberapa antibiotik yang telah dibelinya.

2. Antibiotik menjadi resisten akibat penggunaan yang tidak teratur. Ini yang paling berbahaya sebenarnya. Tentu tidak semua orang patuh makan obat. Memang ada sebagian yang patuh, namun ketika gejala penyakitnya hilang, obat segera distop. Padahal penggunaan antibiotik umumnya harus dikonsumsi sedikitnya selama tiga hari.

3. Munculnya banyak praktisi kesehatan gadungan mendadak. Yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang sama sekali bukan di bidang kesehatan namun sudah belajar banyak soal obat-obat (terutama antibiotik). Mereka belajar banyak melalui pengalaman, buku dan internet sehingga mereka cukup percaya diri untuk menganjurkan beberapa antibiotik.

Tetapi keuntungannya juga ada. Tidak semua masyarakat memiliki ekonomi yang cukup. Sebagian mungkin tidak. Mereka yang keuangannya terbatas mungkin tidak mampu membayar uang administrasi atau dokter yang mahal. Sehingga antibiotik yang dijual bebas ini sangat bermanfaat.

Kini antibiotik dikonsumsi atas inisiatif pribadi. Seharusnya ini tidak boleh. Mengapa? Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya antibiotik dijual dengan resep dokter.

1. Rentan resisten. Antibiotik yang dikonsumsi secara tidak patuh dapat menjadi resisten. Apabila ini terjadi maka harus dipilih antibiotik yang lain masih sensitif. Waktu penyembuhan semakin lama dan biaya pengobatan semakin banyak.

2. Ada efek samping. Efek samping obat tentu ada. Sebab obat adalah racun. Antibiotik harus dipilih sesuai indikasi. Salah satu efek samping antibiotik yang berat adalah syok anafilaktik.

3. Ada interaksi dengan obat lain. Seseorang yang sakit demam mungkin tidak cukup diobati dengan satu jenis obat saja. Tentunya harus dengan kombinasi beberapa obat. Baik itu antibiotik, obat penurun demam (antipiretik) atau obat-obat lain yang sifatnya simtomatis. Masalahnya, setiap obat dapat berinteraksi dengan obat lain. Efeknya ada, bisa menghilangkan efek obat lain, atau meningkatkan efek obat lainnya atau bahkan justru memperburuk kondisi penyakit. Dokter tentunya tahu interaksi obat-obat yang akan diberinya sehingga pasien aman ketika harus mengonsumsi obat antibiotik atau obat lainnya.

4. Harus sesuai dengan dosis. Banyak yang mengira dosis antibiotik itu tiga kali satu atau dikonsumsi sebanyak tiga kali dalam satu hari. Padahal sebenarnya semua dosis dan cara pakai setiap antibiotik itu berbeda-beda. Ada yang dua kali satu dan bahkan ada yang empat kali satu.

Antibiotik memainkan peran yang cukup penting dalam bidang kesehatan. Berbeda dengan masa sebelum antibiotik ditemukan. Faktanya memang angka kematian di masa lalu cukup tinggi jika dibandingkan dengan sekarang. Dengan adanya masalah-masalah yang dipaparkan di atas, sebaiknya antibiotik tidak dikonsumsi secara inisiatif. Kalaupun kondisi mengharuskan demikian, maka penggunaan antibiotik harus sesuai indikasi dan tepat cara pakainya.

Maka alangkah baiknya bila pembelian obat-obat khususnya antibiotik harus dengan resep dokter. Agar hal-hal yang tidak diinginkan di atas tidak terjadi.

Tulisan ini telah diperbarui tanggal 24 Januari 2019

Umur saya hampir 16 tahun tapi tinggi saya hanya 145 cm yg membuat saya sanagt minder. Saya sudah mencoba rajin lompat, skipping, tidur terlntang tanpa bantal, dan mnum susu. Tapi tidak ada perubahan. Ada saran efektif? Trims

(A, perempuan, 15 tahun 11 bulan, 38,6 kg, 145 cm)

Jawab:

Selamat malam.

Semua usaha yang kamu lakukan saya rasa sudah lumayan cukup. Sekarang tinggal masalah keseriusan atau ketekunan melakukannya. Menurut teori memang tulang epifisis pada wanita berumur 16 tahun sudah tertutup. Tiap orang berbeda. Ada yang lebih cepat dan ada yang lebih lambat. Yang penting jangan langsung putus asa.

Postur tubuh pendek memang bisa diturunkan secara genetik oleh orang tua. Tapi tidak selalu. Tidak selalu orang tua pendek menghasilkan anak yang pendek.

Tetap teratur berolahraga dan minum susu pun sudah cukup. Pilihlah olahraga renang.

ke dokter gizi? Sepertinya tidak perlu. 🙂

Semoga bermanfaat,
Mohon maaf apabila ada hal yang tidak berkenan.

Terima kasih
Samuel Sembiring, dr.