Di Indonesia kamu bisa membeli antibiotik dengan mudah dan murah. Apotek akan memberikannya bahkan tanpa resep dokter. Satu sisi ini menguntungkan namun di sisi lain juga merugikan. Di negara lain yang lebih maju, apotek tidak akan menjual obatnya (apalagi antibiotik) jika tanpa resep dokter.
Apa untungnya bisa membeli antibiotik tanpa resep? Antibiotik dijual dengan bebas sehingga siapa saja dapat membelinya. Dengan dijualnya antibiotik dengan mudah, siapa saja cukup berani mengobati dirinya sendiri. Sekarang ini sudah banyak sekali konten informasi tentang penyakit di internet. Masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah. Informasi tentang antibiotik apa saja bisa kamu dapatkan. Kekurangan, kelebihan bahkan efek sampingnya.
Antibiotik digunakan bila ada infeksi kuman/bakteri. Bila infeksinya adalah virus maka obat yang digunakan adalah antivirus. Walaupun beberapa kasus infeksi virus, antibiotik juga diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.
Seyogyanya, antibiotik diberikan apabila tanda infeksi bisa dibuktikan. Di rumah sakit, pasien biasanya diminta untuk cek darah untuk melihat tanda-tanda infeksi seperti peningkatan leukosit dan neutrofil segmen. Nah, apabila terbukti bahwa ada tanda infeksi maka antibiotik segera diberi, sebaliknya jika tidak maka yang diberi hanya obat simtomatis saja. Antibiotik tidak. Inilah alasan mengapa dokter tidak meresepkan antibiotik walau pasiennya mengeluh demam.
Namun terkadang pada praktiknya, pasien demam sering diberi antibiotik walau tidak didukung dengan pemeriksaan darah. Biasanya hal ini sering dilakukan di klinik atau praktik dokter yang tidak menyediakan pemeriksaan darah. Alasannya disamping pemeriksaan tidak ada, pasien harus mengeluarkan biaya pemeriksaan. Belum lagi harus menunggu hasil pemeriksaannya selesai. Sehingga muncul opini bahwa pemberian antibiotik tanpa didukung pemeriksaan dianggap praktis. Dan di satu sisi hal ini juga sebenarnya menguntungkan pasien.
Menurut pandangan saya, ada beberapa kerugian atau kekurangan bila antibiotik-antibiotik ini bisa dibeli dengan mudah tanpa resep dokter.
1. Dokter dijadikan alternatif kesembuhan bila obat yang dibeli (terutama antibiotik) tidak bisa menyembuhkan penyakitnya. Kebanyakan memang seperti ini. Saya tidak bermaksud menyalahkan. Tidak sedikit pasien yang datang kepada saya ternyata sudah mencoba beberapa antibiotik yang telah dibelinya.
2. Antibiotik menjadi resisten akibat penggunaan yang tidak teratur. Ini yang paling berbahaya sebenarnya. Tentu tidak semua orang patuh makan obat. Memang ada sebagian yang patuh, namun ketika gejala penyakitnya hilang, obat segera distop. Padahal penggunaan antibiotik umumnya harus dikonsumsi sedikitnya selama tiga hari.
3. Munculnya banyak praktisi kesehatan gadungan mendadak. Yang saya maksudkan di sini adalah mereka yang sama sekali bukan di bidang kesehatan namun sudah belajar banyak soal obat-obat (terutama antibiotik). Mereka belajar banyak melalui pengalaman, buku dan internet sehingga mereka cukup percaya diri untuk menganjurkan beberapa antibiotik.
Tetapi keuntungannya juga ada. Tidak semua masyarakat memiliki ekonomi yang cukup. Sebagian mungkin tidak. Mereka yang keuangannya terbatas mungkin tidak mampu membayar uang administrasi atau dokter yang mahal. Sehingga antibiotik yang dijual bebas ini sangat bermanfaat.
Kini antibiotik dikonsumsi atas inisiatif pribadi. Seharusnya ini tidak boleh. Mengapa? Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya antibiotik dijual dengan resep dokter.
1. Rentan resisten. Antibiotik yang dikonsumsi secara tidak patuh dapat menjadi resisten. Apabila ini terjadi maka harus dipilih antibiotik yang lain masih sensitif. Waktu penyembuhan semakin lama dan biaya pengobatan semakin banyak.
2. Ada efek samping. Efek samping obat tentu ada. Sebab obat adalah racun. Antibiotik harus dipilih sesuai indikasi. Salah satu efek samping antibiotik yang berat adalah syok anafilaktik.
3. Ada interaksi dengan obat lain. Seseorang yang sakit demam mungkin tidak cukup diobati dengan satu jenis obat saja. Tentunya harus dengan kombinasi beberapa obat. Baik itu antibiotik, obat penurun demam (antipiretik) atau obat-obat lain yang sifatnya simtomatis. Masalahnya, setiap obat dapat berinteraksi dengan obat lain. Efeknya ada, bisa menghilangkan efek obat lain, atau meningkatkan efek obat lainnya atau bahkan justru memperburuk kondisi penyakit. Dokter tentunya tahu interaksi obat-obat yang akan diberinya sehingga pasien aman ketika harus mengonsumsi obat antibiotik atau obat lainnya.
4. Harus sesuai dengan dosis. Banyak yang mengira dosis antibiotik itu tiga kali satu atau dikonsumsi sebanyak tiga kali dalam satu hari. Padahal sebenarnya semua dosis dan cara pakai setiap antibiotik itu berbeda-beda. Ada yang dua kali satu dan bahkan ada yang empat kali satu.
Antibiotik memainkan peran yang cukup penting dalam bidang kesehatan. Berbeda dengan masa sebelum antibiotik ditemukan. Faktanya memang angka kematian di masa lalu cukup tinggi jika dibandingkan dengan sekarang. Dengan adanya masalah-masalah yang dipaparkan di atas, sebaiknya antibiotik tidak dikonsumsi secara inisiatif. Kalaupun kondisi mengharuskan demikian, maka penggunaan antibiotik harus sesuai indikasi dan tepat cara pakainya.
Maka alangkah baiknya bila pembelian obat-obat khususnya antibiotik harus dengan resep dokter. Agar hal-hal yang tidak diinginkan di atas tidak terjadi.
Tulisan ini telah diperbarui tanggal 24 Januari 2019
