Disleksia hampir tidak memiliki gejala. Siapa yang sadar kalau anak anda kesulitan menulis dan membaca? Mereka sulit membedakan huruf atau angka. Membaca pun kadang harus terbata-bata.
Di dalam kelas, mereka sering tertinggal pelajaran, terlambat menulis catatan dari papan tulis dan nilai yang mereka dapatkan pun tentunya jarang ada yang bagus. Belum lagi tanggapan-tanggapan teman-temannya yang sadar kalau dia seperti “anak bodoh.”
Nah, sebenarnya mereka tidak lah bodoh! Mengapa? Sebelum pertanyaan ini terjawab, anda harus tahu dahulu apa itu disleksia!
APA ITU DISLEKSIA?
Disleksia berasal dari kata Yunani, yakni kata “dys” yang berarti kesulitan dan kata “lexis” yang berarti bahasa. Secara harafiah, disleksia berarti “kesulitan dalam berbahasa”.
Disleksia (dyslexia) merupakan kesulitan belajar spesifik yang berkaitan dengan membaca, mengeja dan menulis. Kelainan ini hanya terbatas pada ketiga hal tersebut saja, dan tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar seperti kecerdasan, kemampuan analisis, dan juga daya sensorik pada indera perasa. Disleksia sebenarnya masih kurang tepat jika disebut penyakit. Beberapa ahli menyebutkan disleksia ini hanyalah semacam gangguan belajar atau masalah dalam kesulitan belajar saja. Si penyandang disleksia mungkin sulit membedakan “b” dan “d” atau huruf “p” dan “q” Dan disleksia ini merupakan bawaan lahir atau factor genetis. Gangguan ini tidak dapat disembuhkan sehingga penyandang disleksia harus membawa gangguan ini seumur hidupnya.
APA SAJA YANG MENJADI TANDA DAN GEJALA DISLEKSIA?
Sebenarnya tidak semua penderita disleksia menunjukkan gejala. Secara fisik penderita disleksia tidak menunjukkan tanda bahwa dia adalah seorang penderita penyakit ini.
Anak disleksia sering tidak dapat membedakan huruf dan angka. Misalnya huruf b, d, s, z, p, dan a. Dan juga mereka sering terbalik menuliskan angka “6”, “7” dan “9”.
Walau tidak kelihatan secara fisik, anak disleksia bisa diketahui oleh teman-temannya sendiri di kelas. Secara otomatis, teman-temannya menyadari bahwa dia berbeda. Selalu kesulitan membaca ketika disuruh membaca, terlambat menulis tulisan guru di papan tulis dan banyak lagi ciri yang lain.
Intinya, anak disleksia sulit untuk belajar, baik itu menulis atau pun membaca. Namun, jika potensi disleksia diketahui sejak dini ataupun masalah belajarnya terus dilatih, maka tidak tertutup kemungkinan gangguan disleksia ini mampu diatasi. Walaupun masalah disleksia bisa diatasi namun tetap saja tidak ada bukti yang signifikan untuk membuktikan bahwa seseorang telah sembuh dari disleksia.
Anak disleksia pun sebenarnya tidaklah bodoh. Lihat saja Albert Einstein! Orang jenius seperti Albert Einstein juga salah satu penderita disleksia!
APA SAJA PENYEBAB DARI PENYAKIT INI?
Siapa saja bisa terkena penyakit ini. tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan. Lalu apa yang menyebabkan penyakit ini terjadi?
Salah satu faktor risikonya adalah riwayat keluarga. Jika salah satu orang tuanya penderita disleksia, anak-anaknya memiliki peluang sekitar 23-65% menderita disleksia juga. Menurut penelitian John Bradford (1999) di Amerika, telah didapati bahwa bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami “learning disabilities” (termasuk salah satunya disleksia), dan 60% di antaranya punya anggota keluarga yang kidal.
Selain faktor keturunan, faktor penyebab lain yang masih diperdebatkan adalah faktor gangguan pendengaran. Sebagian ahli berpendapat gangguan pendengaran sama sekali tidak memiliki peranan penting dalam menyebabkan disleksia, namun pendapat lain mengatakan kelainan pendengaran sejak kecil bisa mengakibatkan disleksia akibat ketidakcocokan ataupun kekacauan antara “apa yang didengar” dengan “apa yang dibaca”.
TERAPI APA YANG TEPAT UNTUK PENYAKIT DISLEKSIA?
Sebenarnya disleksia merupakan penyakit menetap yang artinya tetap ada pada suatu individu yang telah menjadi penderita. Sebagian referensi lain menyebutkan disleksia ini termasuk gangguan atau masalah kronis. Jadi sangat kecil kemungkinannya ada kesembuhan. Namun ada beberapa penderita disleksia terlihat seolah-olah sembuh di masa dewasanya. Dalam hal ini sebenarnya penyakitnya tidak lah sembuh. Gejala disleksia yang dialami si penderita bisa saja berangsur menghilang saat dewasa jika si penderita mampu mengatasi kesulitan yang diakibatkan penyakitnya itu.
Nah, untuk itu yang bisa dilakukan pada anak disleksia adalah membawanya berkonsultasi pada tenaga medis yang ahli dalam bidang tersebut.
Hal lainnya adalah melatih anak disleksia untuk mengatasi masalah belajarnya itu. Misalnya sering-sering menulis dan membaca. Dari jurnal “Learning Disorder, Writing Expression” http://www.emedicine.com/, ada teknologi terbaru untuk melatih anak-anak ini dalam menulis. Dimana cara ini membutuhkan computer juga. Dimana komputer akan segera menyuarakan apa yang telah diketik si anak. Ini akan membantu anak disleksia untuk belajar membedakan tulisan yang benar dan salah.
APA SAJA KOMPLIKASI DARI DISLEKSIA?
Sebenarnya komplikasi dari disleksia sendiri pun belum jelas. Belum ada referensi yang menjelaskan tentang komplikasi disleksia ini secara jelas.
Yang jelas gangguan belajar disleksia jika tidak dilatih atau dikontrol dengan baik bisa mempengaruhi masa depannya nanti. Maka, ada baiknya masalah disleksia ini dideteksi dan dilatih sejak dini supaya masa pendidikannya pun tetap terjamin.
APA SAJA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH DISLEKSIA?
Tidak ada pencegahan yang spesifik yang bisa dilakukan. Paling tidak ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh anak disleksia. Misalnya:
-duduk di bangku depan saat dalam kelas
-membuat waktu belajar khusus untuk latihan disleksia-nya. Misalnya dengan banyak membaca. Tidak harus buku pelajaran. Begitu juga dengan melatih membaca angka dengan melihat jam (bila perlu beri dia jam tangan).
Orang dewasa juga berperan dalam perkembangan anak disleksia. Jangan selalu menekan mereka. Mereka ini juga sudah cukup sulit sebenarnya menderita penyakit ini. Tidak jarang mereka membandingkan diri dengan teman-temannya yang lain yang normal. Sangat lah dianjurkan jika orang dewasa tetap mau mendukung dan memotivasi anak-anak disleksia!
SUMBER REFERENSI:
-http://children.webmd.com/tc/dyslexia-overview
-http://children.webmd.com/understanding-dyslexia-basics
-ernstein, Bettina E. DO. (December 3, 2008) “Learning Disorder, Written Expression”. http://www.emedicine.com/
